🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Senin Tanpa Kemudi

Antar Jemput Terakhir · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Pukul enam lewat sepuluh, Senin pagi, Pak Lukas berdiri di teras rumahnya di Gunung Samarinda dengan termos kopi di tangan dan tidak ada tempat untuk dituju.

Ia sudah bangun sejak pukul lima. Tubuhnya tidak tahu bahwa ia pensiun. Tangannya sempat meraih kunci minibus di paku dekat pintu sebelum ingat bahwa paku itu kosong. Kuncinya sudah dikembalikan ke yayasan hari Jumat, bersama dua puluh dua tahun yang tidak bisa dikembalikan.

"Pak, kopinya dingin dipegang terus begitu," kata Bu Martha dari dapur.

"Sekarang Dimas sudah di Grand City," gumam Pak Lukas, melirik jam dinding. "Rumah nomor empat belas. Kenzo."

"Pak."

"Mudah-mudahan dia ingat, tanjakan sebelum masjid itu harus pakai gigi satu. Minibus itu kalau gigi dua suka..."

"Lukas." Bu Martha berdiri di ambang pintu dapur dengan celemek bergambar ayam. Ia hanya memanggil nama suaminya tanpa Pak kalau sedang serius. "Duduk. Sarapan. Dimas bukan anak kecil."

Pak Lukas duduk. Ia makan nasi kuning yang dibelikan istrinya dari warung depan gang. Ia tidak merasakan apa-apa. Matanya terus kembali ke jam dinding, menghitung: sekarang rumah Aisyah, sekarang si kembar, sekarang Ros pasti teriak dari pagar.

Pukul tujuh kurang sepuluh, ponselnya bergetar. Satu pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Pak Lukas, ini Dimas. Sudah sampai sekolah. Tidak terlambat. Klakson tiga kali di semua rumah. Terima kasih, Pak.

Pak Lukas membaca pesan itu tiga kali. Lalu ia meminum kopinya sampai habis, dan kopi itu tiba-tiba terasa enak.


Selasa, Dimas mengirim pesan lagi. Kali ini dengan foto: Kenzo di kursi depan minibus, cemberut, memeluk tas dinosaurusnya.

Kenzo tidak mau bicara sama saya, Pak. Katanya saya bukan Opa.

Pak Lukas tertawa untuk pertama kalinya sejak Jumat. Ia mengetik balasan dengan dua jari, pelan, karena huruf di ponselnya terlalu kecil.

Tanya dia soal dinosaurus. Yang leher panjang namanya Brakiosaurus. Dia suka koreksi orang dewasa yang salah sebut.

Rabu, foto lagi. Kenzo tertawa, menunjuk-nunjuk sesuatu di luar jendela. Pesannya pendek: Saya sebut Brontosaurus. Dia koreksi sepuluh menit.

Kamis, Dimas bertanya soal tanjakan Gunung Pipa, soal anak kelas tiga yang mabuk perjalanan, soal di mana ia bisa beli permen jahe. Pak Lukas menjawab semuanya, satu per satu, dengan dua jari. Bu Martha memperhatikan dari kursi rotan sambil menjahit kancing, dan sesekali tersenyum diam-diam ke arah kain di pangkuannya.

"Kamu masih bekerja, Pak," katanya. "Cuma gajinya tidak ada."

"Saya cuma kasih tahu."

"Iya. Sopir lewat ponsel."


Jumat sore, bukan Dimas yang menelepon. Yosua.

Suaranya terdengar berbeda dari hari Jumat lalu. Tidak ada tawa. Di latar belakang terdengar suara Lidya merengek minta sesuatu.

"Opa sudah dengar dari yayasan?"

"Dengar apa?"

Yosua diam sebentar. "Tadi siang semua orang tua di rute Opa dapat surat. Antar-jemput sekolah dihentikan akhir bulan ini. Minibusnya sudah tua, katanya biaya perawatan terlalu besar. Yayasan mau kerja sama dengan layanan antar-jemput daring. Orang tua pesan sendiri lewat aplikasi."

Pak Lukas berdiri dari kursi rotan. Ia tidak tahu kenapa ia berdiri. Ia hanya merasa tidak bisa mendengar kabar itu sambil duduk.

"Akhir bulan ini? Itu tiga minggu lagi."

"Iya, Opa."

"Dimas?"

"Kontraknya tidak diperpanjang. Dia baru tahu tadi siang, waktu jemput anak-anak pulang. Anak-anak yang kasih tahu dia, Opa. Mereka baca surat di tas masing-masing." Yosua menarik napas. "Kenzo nangis di minibus. Katanya, sudah dua kali dia ditinggal sopir dalam dua minggu."

Pak Lukas menutup mata.

Ia membayangkan minibus putih bergaris biru itu diparkir di belakang gudang yayasan, ditutupi terpal, sampai bannya kempis dan catnya mengelupas. Ia membayangkan Kompleks Grand City pada pukul enam lewat sepuluh pagi, sunyi. Kakek-kakek di teras yang tidak lagi tahu jam berapa. Gorden-gorden yang tidak lagi tersibak.

"Opa?"

"Saya di sini, Yos."

"Orang tua di rute kita mau rapat Minggu sore. Di rumah saya. Mereka minta Opa datang." Yosua ragu sejenak. "Mereka tidak tahu mau ngapain, Opa. Tapi mereka bilang, kalau Opa ada, pasti ada jalan."


Malam itu Bu Martha terbangun pukul satu dan mendapati sisi tempat tidur suaminya kosong.

Ia menemukan Pak Lukas di meja makan, di bawah lampu gantung yang cahayanya kuning, dengan kacamata baca melorot di ujung hidung. Di depannya terbuka buku tulis kecil yang lusuh itu. Buku yang sama. Buku yang halaman terakhirnya berbunyi Semua lunas.

Tetapi Pak Lukas tidak sedang membaca halaman terakhir. Ia sudah membalik ke sampul belakang, ke halaman kosong di bagian dalam, dan sedang menulis angka-angka dengan pensil, menghapusnya, menulis lagi.

Bu Martha berdiri di belakangnya cukup lama tanpa bersuara. Ia mengenal tulisan suaminya. Ia mengenal setiap kolom di buku itu, karena ia yang mengajari suaminya membuat kolom-kolom itu tiga puluh tahun lalu, ketika gaji sopir hanya cukup untuk dua minggu dan mereka belajar hidup dengan amplop.

Di baris paling atas halaman itu, Pak Lukas menulis: Harga minibus bekas, tanya yayasan.

Di baris bawahnya: Tabungan pensiun.

Dan di sampingnya, ada satu angka yang Bu Martha kenal betul. Angka yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit selama sebelas tahun, dari amplop yang tidak pernah dibuka, dari kue bingka yang ia jual tiap Lebaran, dari baju-baju yang tidak jadi dibeli.

Angka itu sudah ada namanya. Namanya ditulis di sampul depan amplop cokelat yang disimpan di lemari kamar, di bawah tumpukan seprai: Manado. Lihat cucu.

"Lukas," kata Bu Martha.

Pak Lukas tersentak, dan pensil di tangannya jatuh menggelinding ke lantai.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Atur Keuangan Keluarga untuk Ibu Rumah Tangga

Gaji sudah dibagi untuk dapur, sekolah, listrik, dan cicilan, tetapi minggu terakhir selalu kurang dan paylater mulai jadi kebiasaan. Buku ini mengajak ibu rumah tangga mengatur ua...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu