🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Alamat di Buku Resep

Antrean Kamis Pagi · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Kamis berikutnya kursi keempat tetap kosong. Begitu juga Kamis setelahnya.

Pak Harun mulai gelisah dengan cara yang tidak ia kenali sejak pensiun. Ia bangun pukul tiga pagi dan tidak bisa tidur lagi. Ia mengerjakan teka-teki silang dan salah menulis nama stasiun, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak ia masuk dinas tahun tujuh puluh empat. Ia memanaskan teh jahe dan lupa meminumnya sampai dingin.

"Bapak kenapa?" tanya Andi, anak sulungnya, yang tinggal di rumah sebelah dan setiap sore mampir membawa cucu. "Bapak kelihatan seperti waktu menunggu pengumuman pensiun dulu."

"Tidak apa-apa."

"Tensinya naik?"

"Tensi Bapak bagus. Seratus tiga puluh."

Andi menatapnya curiga, tetapi tidak bertanya lagi. Andi memang begitu sejak kecil: lebih suka mengamati daripada bertanya. Sifat itu menurun dari ibunya. Almarhumah istri Pak Harun dulu juga tidak pernah bertanya kenapa suaminya pulang terlambat; ia hanya menyiapkan teh jahe dan menunggu sampai Pak Harun bercerita sendiri.

Pada Kamis ketiga tanpa Bu Lastri, Pak Harun memberanikan diri bertanya ke petugas loket. Seorang perempuan muda berjilbab biru yang selalu memanggil nomor dengan suara riang.

"Mbak, Ibu Lastri. Yang biasa kontrol gula Kamis pagi. Sudah lama tidak datang?"

Petugas itu menatap layar komputernya, lalu menatap Pak Harun dengan pandangan yang membuat Pak Harun merasa seperti anak SMA yang ketahuan menitip surat.

"Maaf, Pak. Saya tidak boleh kasih data pasien. Bapak keluarganya?"

"Bukan. Teman antre."

"Teman antre," ulang petugas itu, dan ia tersenyum dengan cara yang membuat telinga Pak Harun panas. "Saya cuma bisa bilang, Bu Lastri dirujuk minggu lalu. Lebih dari itu saya tidak boleh cerita."

Dirujuk. Kata itu mengikuti Pak Harun pulang, naik angkot, sampai ke teras rumah. Dirujuk ke mana? Kenapa? Ia tidak tahu alamat Bu Lastri. Tidak tahu nomor teleponnya. Selama enam Kamis, mereka bicara tentang tari topeng, stasiun yang sudah ditutup, resep tanpa takaran. Mereka tidak pernah bicara tentang hal-hal yang biasa ditanyakan orang: tinggal di mana, anaknya berapa, sakitnya apa.

Malam itu, Pak Harun membuka lemari dan mengeluarkan kotak kayu tempat ia menyimpan barang-barang yang tidak ingin ia buang. Di dalamnya ada peluit masinis, foto pernikahan, dan selembar kertas yang terselip di antara halaman teka-teki silang dua minggu lalu, yang baru sekarang ia sadari.

Kertas dari buku tulis bergaris. Tulisan tangan yang rapi dan miring: Jenang sumsum. Tepung beras, santan, garam sejumput. Juruh: gula merah, pandan. Aduk sampai tangan pegal. Kalau belum pegal, belum matang. Di bawahnya, dengan tinta yang berbeda, seolah ditambahkan belakangan: Pak Harun, kalau mau coba, ini takarannya: tepung beras 100 gram, santan 600 mili. Saya tulis takarannya untuk pertama kali. Jangan bilang ibu saya.

Dan di pojok kanan bawah, cap stempel kecil yang mungkin tidak sengaja tertera: Sanggar Tari Kembang Sore, Jl. Bunga Kenikir, Malang.

Keesokan paginya, Pak Harun mengajak cucunya, Bima, yang berumur sepuluh tahun, naik angkot ke Jalan Bunga Kenikir.

"Kita mau ke mana, Kek?"

"Menjenguk teman."

"Teman siapa?"

"Teman antre."

Bima mengangguk dengan serius, seolah itu jawaban yang sangat masuk akal.

Sanggar Tari Kembang Sore ternyata rumah tua berhalaman luas dengan pendopo kecil di depannya. Di pendopo itu, beberapa anak perempuan sedang berlatih tari dengan selendang kuning, diiringi musik dari pengeras suara kecil. Pelatihnya perempuan muda yang wajahnya mirip sekali dengan Bu Lastri, hanya tiga puluh tahun lebih muda.

"Cari siapa, Pak?"

"Bu Lastri. Saya... teman beliau."

Perempuan muda itu menatap Pak Harun dari ujung peci sampai ujung sepatu, lalu menatap Bima, lalu menatap bungkusan daun pisang di tangan Pak Harun.

"Saya Dewi, anaknya," katanya. Nadanya tidak ramah, tetapi juga tidak kasar. Nada orang yang lelah. "Ibu jatuh di kamar mandi dua minggu lalu. Pergelangan kakinya retak, gulanya juga naik. Sekarang sudah pulang dari rumah sakit, tapi belum boleh jalan jauh."

"Boleh saya menjenguk?"

Dewi ragu. "Bapak ini... teman dari mana?"

Sebelum Pak Harun menjawab, sebuah suara terdengar dari dalam rumah. Suara yang ia kenal, sedikit serak, tetapi tetap lurus seperti punggung seorang penari.

"Dewi, siapa itu? Kalau Pak Harun, suruh masuk. Bilang jangan lupa bawa teka-teki silangnya."

Dewi memejamkan mata sebentar, seperti orang yang baru memahami sesuatu yang sudah lama ia curigai.

"Jadi Bapak yang namanya Pak Harun," katanya. "Ibu cerita terus soal teh jahe. Saya kira itu nama warung."

Bu Lastri duduk di kursi malas di ruang tengah, kakinya yang dibebat diletakkan di atas bantal. Ia kelihatan lebih kecil daripada di kursi tunggu puskesmas, tetapi matanya berbinar ketika Pak Harun masuk.

"Saya bawa kue lapis," kata Pak Harun, tiba-tiba canggung. "Tapi Ibu tidak boleh makan yang manis."

"Saya boleh lihat," kata Bu Lastri. "Melihat tidak bikin gula naik."

Mereka tertawa. Bima, yang sejak tadi berdiri di belakang kakeknya, maju dan menyodorkan termos. "Teh jahe, Nek. Kakek bikinnya dari jam tiga. Jahenya dibakar."

Dari ambang pintu, Dewi melihat ibunya menerima termos itu dengan kedua tangan, dan melihat ibunya tersenyum seperti yang belum pernah ia lihat sejak ayahnya meninggal sepuluh tahun lalu.

Dewi mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik pesan kepada kakaknya di Jakarta: Mas, Ibu punya teman. Laki-laki. Pensiunan masinis. Pulanglah akhir bulan ini. Kita perlu bicara.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Resep Rumahan Nusantara

Masakan rumahan yang enak tidak harus rumit. Kuncinya ada pada bumbu dasar yang tepat dan takaran yang jelas. Buku ini mengumpulkan 18 resep sehari-hari ditambah tiga bumbu dasar d...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu