Kain yang Belum Selesai
"Ibu mau ikut," kata Damar di telepon. "Ke Pekalongan. Besok."
Di seberang, Sekar diam begitu lama sampai Damar mengira sinyalnya putus. Lalu terdengar bunyi sesuatu jatuh ke lantai, disusul suara Bu Tarmi dari kejauhan, Wajannya, Mbak! Wajannya!
"Malamnya tumpah?" tanya Damar.
"Sedikit." Suara Sekar tipis. "Ibumu orang Solo, Mas. Orang Solo itu pakai sogan. Cokelat, krem, halus. Kainku merah, hijau, ungu. Ibumu pasti pikir kainku ramai seperti pasar malam."
"Ibu belum pikir apa-apa. Ibu cuma mau kenal."
"Itu yang lebih menakutkan," kata Sekar, lalu menutup telepon untuk mengurus wajannya.
Bu Widati turun dari kereta dengan kebaya hijau lumut, selendang tipis, dan tas anyaman berisi tiga stoples kue kering yang ia bawa dari Solo. Ia perempuan yang berjalan pelan dan bicara lebih pelan lagi, dan Damar tahu dari pengalaman bahwa kepelanan itu bukan kelembutan. Itu ketelitian.
Di rumah kayu Sekar, Bu Widati tidak langsung duduk. Ia berjalan menyusuri ruang produksi, berhenti di depan setiap gawangan, membungkuk, dan memandangi kain-kain itu dari jarak sejengkal, seperti orang membaca huruf kecil.
Tiga perempuan di dingklik berhenti mencanting. Sekar berdiri di ujung ruangan dengan tangan saling meremas di balik punggung.
Bu Widati berhenti paling lama di depan kain bermotif jendela. Kain itu kini sudah dilorod. Jendela-jendela putih di atas latar biru tua, gawangan bambu, kamera kecil, dan hati yang mungil di sampingnya. Retakan halus menjalar di warna biru seperti urat daun.
"Ini kamu yang mencanting?" tanya Bu Widati.
"Saya, Bu."
"Garis yang ini lebih tebal." Bu Widati menunjuk satu lengkung di bingkai jendela.
Sekar menelan ludah. "Waktu itu tangan saya gemetar, Bu."
"Kenapa?"
Sekar melirik Damar. Damar mendadak sangat tertarik pada lensa kameranya.
"Waktu itu Mas Damar berdiri di belakang saya," kata Sekar akhirnya, sangat pelan.
Bu Widati menegakkan punggung. Untuk pertama kalinya sejak turun dari kereta, ia tersenyum, dan senyum itu persis senyum Damar ketika memotret di bawah cahaya yang tepat.
"Ibu saya juga mbatik," katanya. "Di Laweyan. Ibu saya bilang, kain yang dicanting dengan tangan gemetar itu kain yang jujur."
Di dingklik, Bu Tarmi menghembuskan napas begitu keras sampai nyala kompornya bergoyang.
Persoalannya baru muncul sore harinya, ketika mereka duduk di beranda dengan teh poci dan kue kering dari Solo.
"Untuk lamaran," kata Bu Widati, "keluarga kami biasanya memakai sidomukti. Motif harapan hidup mulia. Sogan, warna tanah. Itu pakem keluarga, sudah dari nenek buyut Damar."
Sekar mengangguk. Damar melihat jari-jarinya mengencang di gagang gelas.
"Saya bisa, Bu," kata Sekar. "Tapi saya orang pesisir. Ibu saya mengajari saya warna laut dan bunga. Sidomukti yang saya buat nanti, takutnya, bukan sidomukti yang Ibu kenal."
"Ibu tidak minta kamu jadi orang Solo," kata Bu Widati. "Ibu cuma tanya, kamu bisa?"
"Butuh tiga bulan. Mungkin empat."
"Lamarannya bulan Maret."
Sekar menghitung dalam kepala. Damar bisa melihatnya. Pesanan yang menumpuk sejak foto-foto kain itu laku. Utang usaha yang belum lunas. Tiga perempuan yang gajinya harus dibayar tiap Sabtu. Dan satu kain lagi yang tidak bisa diburu-buru.
"Saya mau lihat sesuatu dulu," kata Sekar tiba-tiba, lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Ia kembali dua puluh menit kemudian, membawa bungkusan kain belacu yang sudah menguning, diikat tali rafia yang warnanya pudar. Debu menempel di sudut-sudutnya.
"Ini dari lemari Ibu," katanya. "Lima tahun saya tidak berani buka."
Ia membuka ikatannya pelan-pelan. Di dalamnya, terlipat rapi, selembar kain mori yang sudah dicanting setengah. Garis-garis malam tua yang sudah keras dan kekuningan membentuk pola kotak-kotak kecil, dan di dalam setiap kotak, bunga, kupu-kupu, dan bentuk-bentuk yang Damar tidak kenali.
Bu Widati mencondongkan tubuh. Lalu tangannya menutup mulut.
"Ini sidomukti," bisiknya.
"Sidomukti pesisiran," kata Sekar. Suaranya pecah di ujung. "Ibu saya mulai mencantingnya waktu saya kelas tiga SMA. Katanya untuk saya, nanti, kalau saya dilamar. Belum selesai waktu Ibu pergi. Saya tidak pernah sanggup meneruskan. Rasanya seperti menulis di surat orang lain."
Di halaman, kain-kain di tali bambu berkibar. Mbok Sum, perempuan paling tua di dingklik, yang ternyata sejak tadi berdiri di ambang pintu, menyeka matanya dengan ujung kerudung.
"Itu garis almarhumah," katanya. "Saya kenal. Ujung lengkungnya selalu sedikit naik, seperti orang senyum."
Damar mengangkat kamera tanpa berpikir. Ia memotret tangan Sekar di atas kain itu, tangan muda di samping garis-garis tua, di bawah cahaya sore yang masuk miring ke beranda.
"Saya teruskan," kata Sekar akhirnya. "Untuk Maret. Saya teruskan kain Ibu."
Malam itu, Damar mengantar ibunya ke penginapan dan kembali ke rumah kayu untuk mengambil tripod yang tertinggal. Lampu ruang produksi masih menyala.
Sekar duduk di dingklik, kain ibunya tersampir di gawangan, canting di tangan. Tetapi ia tidak mencanting. Ia menatap ponsel Bu Tarmi, yang berdiri di sampingnya dengan wajah pucat.
"Mas," kata Sekar tanpa menoleh. "Ini fotomu, kan?"
Damar mendekat. Di layar, sebuah halaman toko daring. Fotonya, tidak salah lagi: kain bermotif burung hong, disampirkan di gawangan bambu, wajan malam sedikit buram di latar depan, cahaya jendela pukul tiga sore. Foto yang ia ambil bulan kedua.
Di bawahnya tertulis: Batik motif Sekar, kualitas premium. Rp79.000. Stok 500 lembar. Kirim hari ini.
Lima ratus lembar. Damar merasakan darahnya turun ke kaki.
"Bu Tarmi dapat dari keponakannya," kata Sekar datar. "Sudah terjual seribu dua ratus. Dalam tiga minggu."
Lalu ia menunjuk sesuatu di pojok foto. Alamat penjual.
Bukan Jakarta. Bukan kota yang jauh.
Pekalongan. Tiga kilometer dari rumah ini.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!