Malam yang Menetes
Hari pertama, Sari merusak tiga lembar kain latihan.
Mbok Tun memberinya potongan mori sisa, masing-masing selebar taplak meja, dan menyuruhnya membuat garis lurus saja. Tidak ada motif, tidak ada bintang, tidak ada segi delapan. Hanya garis.
"Garis lurus itu yang paling susah, Mbak," kata Mbok Tun sambil mengaduk malam di wajan. "Motif rumit bisa menyembunyikan salah. Garis lurus tidak bisa bohong."
Sari duduk di dingklik, punggung tegak, kain latihan menjuntai dari gawangan kecil di depannya. Ia mencelupkan canting, meniup ujungnya, lalu menarik garis dari kiri ke kanan. Di tengah jalan, malamnya habis dan garisnya terputus. Ia mencelup lagi, menyambung, dan sambungannya menebal seperti simpul.
"Terlalu lambat," kata Mbok Tun. "Malamnya keburu dingin di cucuk. Tarikannya harus satu napas."
Garis kedua terlalu cepat. Malamnya tidak sempat menembus serat kain, hanya menempel di permukaan seperti lilin di kaca.
Garis ketiga bagus sampai di ujung, lalu setetes malam jatuh dari nyamplungan karena Sari lupa memiringkan canting saat mengangkatnya.
Dari kamar depan, yang pintunya kini sengaja dibiarkan terbuka, Pak Harjo memperhatikan sambil berbaring. Ia tidak berkata apa-apa, tapi setiap kali Sari mendesah kesal, terdengar suara kecil dari ranjang, seperti tawa yang ditahan.
"Bapak ketawa," kata Sari tanpa menoleh.
"Bapak ingat dulu," jawab ayahnya. "Waktu Bapak umur sebelas, Mbah Kakung menyuruh Bapak bikin garis lurus sebulan penuh. Sebulan. Tidak boleh pegang kain pesanan."
"Kita tidak punya sebulan."
"Makanya Bapak ketawa."
Sore harinya Bimo pulang dengan wajah masam. Ia meletakkan helm di meja dan langsung menatap kain-kain latihan yang dijemur di tali di halaman belakang, penuh garis bengkok dan noda bulat.
"Mbak serius?"
"Kenapa tidak?"
"Mbak cuti dua minggu." Bimo menurunkan suaranya, melirik kamar depan. "Setelah itu Mbak balik ke Jakarta, kain itu tetap setengah jadi, dan Bapak makin kecewa. Mbak cuma menunda yang tidak bisa dihindari."
"Atau mungkin aku tidak balik."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Sari, dan ia sendiri kaget mendengarnya. Bimo menatapnya lama.
"Jangan ngomong yang Mbak tidak maksud," katanya akhirnya. "Bapak dengar."
"Kamu sudah bilang ke Bapak soal Pak Wijaya?"
Bimo tidak menjawab. Ia mengambil helmnya lagi dan keluar, motornya meraung di gang sempit sampai suaranya hilang di tikungan.
Mbok Tun yang sejak tadi pura-pura sibuk di dapur keluar membawa dua gelas teh tubruk. Ia duduk di bangku panjang di sebelah Sari, menatap kain-kain latihan di tali jemuran.
"Mas Bimo itu bukan anak jahat, Mbak," katanya pelan. "Waktu Bapak jatuh, dia yang gendong Bapak ke becak, dia yang tunggu tiga malam di rumah sakit. Dia cuma takut."
"Takut apa?"
"Takut rumah ini jadi kuburan." Mbok Tun meniup tehnya. "Mbak tahu, dua tahun lalu Mas Bimo pernah minta diajari nyanting. Bapak bilang tunggu, nanti saja, sekarang pesanan lagi banyak. Terus Mas Bimo tidak pernah minta lagi. Dia malah jualan batik printing lewat HP. Bapak kecewa, Mas Bimo merasa ditolak. Sama-sama keras."
Sari tidak tahu itu. Selama ini ia mengira hanya dirinya yang menolak rumah ini. Ia tidak pernah berpikir bahwa rumah ini juga bisa menolak seseorang.
Malam itu, setelah makan, Sari kembali ke dingklik. Ia mengambil kain latihan baru. Kali ini ia tidak langsung mencelupkan canting. Ia memperhatikan tangannya sendiri, lalu memperhatikan tangan ayahnya yang terletak di atas selimut.
"Pak," katanya. "Ajari aku cara napas."
Pak Harjo membuka mata. "Napas?"
"Mbok Tun bilang satu tarikan harus satu napas. Bapak dulu napasnya bagaimana?"
Ayahnya terdiam sebentar, lalu mengangkat tubuh pelan-pelan. Sari membantunya duduk, menyelipkan bantal di punggungnya.
"Tarik napas sebelum mencelup," kata Pak Harjo. Suaranya masih terseret, tapi matanya hidup. "Tahan waktu meniup ujung. Lepas pelan-pelan sambil menarik garis. Jangan lihat ujung canting. Lihat ke mana garis harus sampai."
Sari mencobanya. Tarik napas. Celup. Tahan. Tiup. Lepas pelan, mata menatap titik pensil di ujung kanan.
Garisnya tidak sempurna. Ada satu bagian yang sedikit menebal. Tapi garis itu sampai di ujung, utuh, tanpa putus, tanpa tetesan.
Sari menoleh. Ayahnya mengangguk sekali, kecil sekali, seperti takut anggukan yang lebih besar akan merusak sesuatu.
"Lagi," katanya.
Sari membuat sebelas garis lagi malam itu. Empat di antaranya bagus. Ketika akhirnya ia mematikan kompor, jarinya kesemutan dan punggungnya pegal, tapi ada sesuatu yang hangat di dadanya yang tidak ia rasakan selama bertahun-tahun di depan layar laptop.
Ia baru akan mematikan lampu ketika melihat sesuatu di bawah meja canting: sebuah buku tulis tebal bersampul plastik biru, sudutnya keriting karena sering dibuka. Di sampulnya, dengan tulisan tangan ayahnya, tertulis: Pesanan 1998 sampai sekarang.
Sari membukanya di halaman terakhir. Pesanan Bu Lestari tercatat di sana, lengkap dengan tanggal, motif, dan uang muka.
Tapi bukan itu yang membuatnya berhenti bernapas. Di bawahnya, dengan tinta yang lebih baru dan tulisan yang lebih gemetar, ayahnya menulis satu baris lagi:
Kain terakhir. Setelah ini, rumah diserahkan ke anak-anak. Terserah mereka.
Sari menutup buku itu.
Ia duduk lama di lantai, punggung bersandar pada kaki meja canting, buku biru di pangkuan. Dari kamar depan terdengar dengkur halus ayahnya, tidak teratur, kadang berhenti sebentar sebelum berlanjut lagi. Setiap kali dengkur itu berhenti, Sari menahan napas sampai bunyinya terdengar lagi.
Kain terakhir. Ayahnya sudah memutuskan semuanya sebelum jatuh. Mungkin sudah lama, mungkin sejak pesanan mulai sepi, mungkin sejak Ibu meninggal dan rumah ini kehilangan separuh tangannya. Dan ayahnya memilih menuliskannya di buku pesanan, bukan mengatakannya kepada anak-anaknya.
Sari membuka buku itu lagi di halaman terakhir, membaca kalimat itu sekali lagi, lalu mengambil pensil dari meja canting. Di bawah tulisan ayahnya, dengan huruf kecil yang rapi, ia menulis satu kata: Belum.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!