🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Seratus Kilo Gula

Kelontong Bu Narti Go Online · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Bu Narti membaca pesan itu tiga kali. Seratus kilo. Ia melepas kacamata, mengelapnya dengan ujung daster, lalu memakainya lagi. Tulisannya tetap sama.

Seratus kilo gula berarti dua karung besar. Seratus kilo gula berarti keuntungan kira-kira seratus lima puluh ribu, cukup untuk membayar listrik toko dua bulan. Seratus kilo gula berarti, untuk pertama kalinya dalam seminggu, Bu Narti mengalahkan minimarket berlampu rumah sakit di seberang jalan.

Ia membalas dengan jari telunjuk yang gemetar karena semangat.

Bisa. Diantar siang. Alamatnya mana.

Ia lupa tanda tanya. Ia juga lupa bertanya siapa yang memesan. Nomor itu membalas cepat dengan alamat di Perumahan Griya Kencana, sekitar dua kilometer dari pasar, lalu menambahkan: Bayar di tempat ya, Bu.

Stok gula di toko hanya dua belas kilo. Bu Narti menelepon distributor langganannya, Koh Liong, yang menjawab dengan suara orang baru bangun tidur.

"Seratus kilo, Bu? Tumben. Ada hajatan?"

"Ada pesanan online," jawab Bu Narti, menekankan kata online dengan bangga, seperti orang menyebut gelar sarjana.

"Wah, sudah modern. Saya antar jam sepuluh."

Pukul sepuluh lewat lima, dua karung gula masing-masing lima puluh kilo diturunkan di depan toko. Pak Joko berdiri di sebelah gerobak baksonya sambil menonton seperti menonton pertandingan bola.

"Buat apa gula sebanyak itu, Bu?"

"Pesanan."

"Dari siapa?"

Bu Narti terdiam sebentar. "Dari HP."

Masalah berikutnya adalah pengiriman. Dimas sedang sekolah dan baru pulang pukul tiga. Bu Narti tidak bisa naik motor. Ojek langganannya, Mas Bayu, sedang mengantar orang ke rumah sakit di Solo. Akhirnya Pak Joko menawarkan bantuan dengan satu syarat.

"Gerobak bakso saya kan kosong sampai sore. Muat, kok."

"Syaratnya apa?"

"Saya numpang jualan bakso di perumahan itu. Siapa tahu laku."

Maka siang itu, warga Klaten disuguhi pemandangan yang tidak biasa: Pak Joko mendorong gerobak bakso berisi dua karung gula, sementara Bu Narti berjalan di sampingnya memakai payung kembang-kembang, memegangi karung supaya tidak miring setiap kali roda gerobak masuk lubang. Di jalan, dua orang ibu bertanya harga bakso. Pak Joko menjawab, "Hari ini menunya gula."

Perjalanan dua kilometer itu memakan waktu empat puluh menit, dua kali istirahat minum es teh, dan satu kali perdebatan dengan satpam perumahan.

"Mau ke mana, Pak?"

"Antar pesanan gula."

Satpam itu menatap gerobak bakso, lalu menatap Bu Narti, lalu menatap karung. "Gula apa bakso?"

"Gula," jawab mereka berdua serentak.

Rumah yang dituju bercat hijau muda, dengan pagar besi dan sepeda roda tiga terguling di halaman. Bu Narti menekan bel. Pintu dibuka oleh seorang anak laki-laki kira-kira tujuh tahun, memakai kaus superhero dan memegang ponsel.

"Ibu siapa?"

"Ibu dari Toko Narti. Antar gula pesanan. Bapakmu ada?"

Anak itu menatap dua karung gula di gerobak, lalu wajahnya berubah pelan-pelan dari heran menjadi senang, lalu menjadi panik.

"Gulanya datang beneran?"

Dari dalam rumah terdengar suara perempuan. "Rafi, siapa itu?"

Seorang ibu muda keluar sambil menggendong bayi. Ia menatap anaknya, menatap Bu Narti, menatap Pak Joko, lalu menatap dua karung gula. Bu Narti menunjukkan layar ponselnya. Ibu itu membaca, dan wajahnya memerah dari leher sampai dahi.

"Rafi."

Rafi menunduk. "Aku main jualan-jualanan, Ma. Aku jadi pembeli."

Ternyata Rafi sedang bermain toko-tokoan dengan ponsel ibunya. Ia membuka kontak acak di WhatsApp, menemukan foto profil yang menurutnya lucu, yaitu jemuran, lalu memesan barang paling banyak yang bisa ia bayangkan.

"Kenapa gula?" tanya Bu Narti, setengah marah setengah penasaran.

"Soalnya gula itu manis," jawab Rafi dengan logika anak tujuh tahun yang tidak bisa dibantah.

Ibu muda itu meminta maaf berkali-kali. Ia akhirnya membeli lima kilo gula, ditambah semangkuk bakso dari Pak Joko karena tidak enak hati. Rafi diwajibkan meminta maaf sambil menyalami tangan Bu Narti, dan anak itu melakukannya dengan sangat serius, lalu berkata, "Bu, besok saya pesan tepung, ya."

"Tidak usah, Nak."

Perjalanan pulang terasa lebih panjang, padahal gerobaknya lebih ringan lima kilo. Pak Joko berusaha menghibur.

"Lumayan, Bu. Bakso saya laku tiga mangkuk."

"Gula saya sisa sembilan puluh lima kilo."

"Ditambah dua belas kilo di toko."

"Seratus tujuh kilo," Bu Narti menghitung, lalu menutup wajahnya dengan payung.

"Bisa buat bikin dodol satu kampung," kata Pak Joko.

"Atau buat bikin semut satu kabupaten pindah ke rumah saya."

Di perempatan dekat pasar, seorang anak SD menunjuk gerobak mereka dan berteriak kepada ibunya, "Ma, itu bakso rasa gula!" Ibunya buru-buru menarik tangan anak itu sambil meminta maaf, dan Pak Joko membalas dengan membunyikan mangkuk bakso dua kali, ting ting, seperti sedang menerima pujian.

Sore harinya, Dimas pulang sekolah dan menemukan dua karung gula menutupi separuh jalan masuk toko. Neneknya duduk di kursi plastik di atas karung, seperti ratu di atas singgasana yang manis dan menyedihkan.

"Nek, ini kenapa?"

Bu Narti menceritakan semuanya, dari pesan pagi sampai Rafi yang ingin memesan tepung. Dimas mendengarkan sambil menahan tawa sampai pipinya kaku. Ketika cerita selesai, ia tidak tahan lagi dan tertawa sampai terduduk di lantai. Bu Narti memukul lengannya dengan kipas sate.

"Ketawa terus. Ini modal Nenek, Dimas. Mau dijual ke siapa gula seratus kilo?"

Dimas berhenti tertawa. Ia menatap karung-karung itu lama, lalu menatap kucing toko, Gulali, yang sedang tidur melingkar di atas karung, seakan-akan karung gula memang diciptakan untuk tempat tidurnya.

Pelan-pelan Dimas tersenyum dengan senyum yang membuat Bu Narti curiga.

"Nek," katanya, "kita bikin katalog. Mulai malam ini. Dan Gulali jadi modelnya."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Jualan dari Rumah: 30 Hari Pertama

Punya produk rumahan tapi bingung harus mulai berjualan online dari mana? Buku ini memberimu jadwal 30 hari: satu atau dua tugas setiap hari, dari memilih produk sampai toko di Sho...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu