🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Arsip yang Basah

Lembur Lantai Sembilan · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Dewi tidak tidur malam itu. Ia mencoba menghapus tab Gaji Feb 2007 tiga kali. Tiga kali tab itu hilang, dan tiga kali, setiap kali ia menutup lalu membuka file, tab itu kembali. Baris yang sama. Nama yang sama.

Paginya ia datang ke kantor pukul tujuh, sebelum siapa pun. Pak Karim baru akan pergantian jaga dengan satpam pagi. Ia sedang mengisi buku laporan ketika Dewi meletakkan dua gelas kopi sachet di mejanya.

"Pak," kata Dewi, "Hasan itu siapa?"

Pak Karim menatap kopinya lama sebelum menjawab.

"Hasan itu OB lantai sembilan, Mbak. Dulu lantai sembilan itu ruang arsip pusat sama kantor direksi lama. Hasan anak Klaten, baik sekali. Pagi bikin kopi direksi, siang antar dokumen, sore bantu bagian arsip beres-beres. Nggak pernah ngeluh."

"Lalu?"

"Februari 2007, Mbak ingat banjir besar Jakarta? Gedung ini kena. Ruang bawah tanah tempat arsip cadangan kebanjiran. Malam itu semua orang disuruh pulang, tapi Hasan nggak mau. Katanya kasihan, arsip keuangan sepuluh tahun bisa rusak semua. Dia angkut kardus-kardus itu dari bawah tanah ke lantai sembilan, sendirian, naik turun tangga darurat karena lift mati. Semalaman."

Pak Karim berhenti. Ia mengaduk kopinya meski gula sudah larut.

"Paginya dia ditemukan tertidur di depan ruang arsip lantai sembilan. Kardus terakhir masih di pangkuannya. Demamnya tinggi. Dia dibawa ke rumah sakit, kena infeksi dari air banjir. Seminggu kemudian dia meninggal."

Dewi merasakan dingin merambat dari telapak kakinya.

"Gaji Februari-nya," lanjut Pak Karim, "belum sempat dibayar. Waktu itu kantor kacau, banyak dokumen rusak, bagian personalia pindah ke gedung lain. Katanya mau diurus. Saya nggak pernah tahu diurus atau nggak."

"Bapak pernah dengar teleponnya?"

Pak Karim tersenyum kecil, sedih. "Saya sudah jaga di sini lima belas tahun, Mbak. Ekstensi 909 itu sering bunyi di pos satpam. Saya nggak pernah angkat. Saya takut."

Malam itu, Dewi kembali lembur. Bukan karena pekerjaan.

Pukul sepuluh, ketika gedung sudah sepi, ia dan Pak Karim naik tangga darurat ke lantai sembilan. Pak Karim membawa senter besar dan, untuk alasan yang tidak ia jelaskan, sebungkus kopi tubruk yang belum dibuka.

Tangga darurat Wisma Pratama sempit dan curam, dengan pegangan besi yang dingin dan cat hijau yang mengelupas. Di setiap bordes ada pintu besi bertuliskan nomor lantai dengan cat putih. Dewi menghitung anak tangga tanpa sadar, kebiasaan lama dari masa kecilnya ketika takut gelap. Di bordes lantai delapan, Pak Karim berhenti untuk mengatur napas.

"Bapak bawa kopi buat apa?" tanya Dewi, menunjuk bungkusan di tangan satpam itu.

"Hasan dulu suka bikinkan saya kopi tubruk tiap jaga malam," jawab Pak Karim. "Pakai gula aren, diaduk tujuh kali. Katanya biar nggak ngantuk, tapi juga nggak deg-degan. Sejak dia nggak ada, saya nggak pernah minum kopi tubruk lagi. Rasanya nggak sama." Ia menepuk bungkusan itu. "Siapa tahu malam ini dia mau."

Pintu tangga darurat ke lantai sembilan tidak terkunci. Lorongnya gelap, dan bau lumpur kering itu menyambut mereka lagi, lebih tebal dari malam sebelumnya.

Meja kayu kecil itu masih di sana, di depan pintu ARSIP. Tapi lampu mejanya mati, dan telepon abu-abu kremnya diselimuti debu tebal. Kabelnya terputus dan ujungnya berkarat.

"Ini nggak mungkin dipakai nelepon," bisik Dewi.

"Memang nggak," jawab Pak Karim.

Ruang arsip tidak terkunci. Di dalamnya, rak-rak besi berderet sampai ke dinding, dipenuhi kardus cokelat yang menguning. Banyak kardus masih menyimpan bekas garis air setinggi lutut, cokelat tua, kering dan retak. Bekas banjir yang tidak pernah dibersihkan.

Dewi menyusuri rak-rak dengan senter. Label-label kardus ditulis tangan: Jurnal Umum 1999. Faktur 2003. Personalia 2006.

Di rak paling ujung, di lantai, ada satu kardus yang terpisah dari yang lain. Kardus itu tidak bergaris air. Bersih, kering, seperti baru diletakkan kemarin. Labelnya ditulis dengan spidol hitam yang masih tajam: SLIP GAJI FEB 2007 — BELUM DISERAHKAN.

Tangan Dewi gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya ada puluhan amplop slip gaji karyawan yang tidak pernah diambil, ditinggalkan dalam kekacauan pindahan. Ia menyusurinya satu per satu. Di tengah tumpukan, ada satu amplop lebih tebal dari yang lain. Nama penerimanya ditulis dengan mesin ketik: Sdr. Hasan Basuki, Office Boy, Lt. 9.

Di dalamnya bukan hanya slip. Ada uang tunai yang sudah menguning, terikat karet, dan selembar memo dari direktur keuangan saat itu: Gaji Februari + bonus khusus atas jasa menyelamatkan arsip saat banjir. Mohon diserahkan langsung kepada yang bersangkutan.

Uang itu tidak pernah sampai.

Pak Karim membaca memo itu dari balik bahu Dewi, lalu menghela napas panjang. "Ya Allah, Hasan," gumamnya.

Di luar ruang arsip, di meja kayu kecil itu, telepon abu-abu krem berdering.

Mereka berdua membeku.

Telepon tanpa kabel itu terus berdering, dering panjang yang sabar, memenuhi lorong kosong lantai sembilan. Lampu meja di sebelahnya menyala sendiri, kuning dan hangat.

Pak Karim menatap Dewi. Wajahnya pucat, tapi ia mengangguk pelan, seperti memberi izin.

Dewi berjalan keluar, menggenggam amplop itu erat-erat. Ia mengangkat gagang telepon.

"Halo," katanya. "Saya sudah ketemu slipnya, Mas Hasan."

Di seberang, tidak ada suara laki-laki. Yang terdengar hanya bunyi air. Bunyi air yang mengalir deras, seperti hujan yang tidak berhenti, dan di sela-selanya, samar, suara perempuan memanggil sebuah nama dari tempat yang sangat jauh.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Excel untuk Kerja Kantor

“Menguasai Microsoft Excel” adalah salah satu syarat yang paling sering tertulis di lowongan kerja. Untuk sebagian besar pekerjaan kantor, yang dibutuhkan bukan ratusan rumus, mela...

Rp35.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu