Bicara kepada Dinding
Rahmat membaca pesan itu tiga kali sebelum membalas. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi.
"Bu Sekar tidak bilang kamu harus langsung bisa. Datang saja besok. Kalau tetap tidak mau, setidaknya kamu sudah coba."
Balasan baru datang hampir tengah malam. Satu kata. "Oke."
Warung kopi Pak Hidayat berdiri di sudut gang dekat Jalan Gajah Mada, tidak besar, hanya tujuh meja kayu dan satu lemari kaca berisi roti srikaya. Pada pukul empat sore, warung itu sepi. Pelanggan pagi sudah pulang, pelanggan malam belum datang. Bu Sekar setuju latihan di sana setelah Rahmat berjanji tidak ada yang merokok di dekat mereka.
Gus datang paling awal, membawa plastik berisi kerupuk basah titipan ibu asrama. Mei Lin datang tepat pukul empat, dengan map plastik yang sama, berdiri di ambang pintu seperti sedang menimbang apakah akan masuk.
"Kopi?" tanya Pak Hidayat dari balik meja. Ia lelaki kurus berkumis tipis yang selalu memakai kaus partai yang sudah pudar warnanya.
"Teh saja, Om. Terima kasih," jawab Mei Lin pelan.
Bu Sekar datang dengan tas berisi kertas mosi dan stopwatch. Ia menjelaskan struktur dasar yang akan mereka pakai sampai lomba. Setiap argumen harus punya tiga bagian: pernyataan, alasan, dan bukti. Setiap pembicara harus menanggapi lawan, bukan hanya membaca catatan sendiri. Dan setiap kalimat harus bisa dipahami orang yang baru pertama kali mendengar topiknya.
"Juri bukan profesor," katanya. "Bayangkan mereka orang pintar yang sedang lapar dan ingin cepat pulang. Kalau kalian bertele-tele, mereka berhenti mendengar."
Gus mengangkat tangan. "Bu, kalau juri lapar, boleh kita bawa kerupuk basah?"
"Tidak."
Latihan pertama berjalan kacau. Rahmat terlalu cepat bicara dan melupakan bukti. Gus terlalu sering bercanda sampai lupa menyimpulkan. Mei Lin menolak berdiri sama sekali.
Saat jeda, Bu Sekar memanggil Mei Lin ke meja paling pojok. Rahmat pura-pura sibuk menyusun kartu catatan, tapi telinganya mendengar.
"Kamu takut apa, tepatnya?" tanya Bu Sekar.
Mei Lin lama tidak menjawab. "Saya takut semua orang melihat saya. Kalau saya salah sedikit saja, saya lupa semuanya. Kepala saya jadi putih."
"Kalau tidak ada yang melihat?"
"Saya bisa bicara. Di kamar, saya bisa."
Bu Sekar berpikir sebentar, lalu tersenyum tipis. Ia berdiri dan menunjuk dinding warung di belakang lemari kaca, dinding yang dicat hijau muda dan dipenuhi kalender bergambar.
"Kalau begitu, bicara kepada dinding."
Mei Lin mengerutkan kening.
"Serius. Berdiri menghadap dinding itu. Kami di belakangmu. Tidak ada yang melihat wajahmu. Tujuh menit, mosi yang sama."
Ragu-ragu, Mei Lin berdiri dan berjalan ke dinding. Ia berhenti sejengkal dari kalender bergambar pemandangan Danau Sentarum. Punggungnya tegang. Rahmat dan Gus saling pandang, lalu sama-sama diam.
"Mulai," kata Bu Sekar, menekan stopwatch.
Sepuluh detik pertama, tidak ada yang terjadi. Lalu suara Mei Lin terdengar, pelan, ditujukan kepada gambar danau di depannya.
"This house would ban homework. We believe that learning should not depend on how much free time a student has at home."
Kalimatnya tersendat, tapi tidak berhenti. Perlahan suaranya menguat. Ia menjelaskan tentang siswa yang bekerja membantu orang tua, tentang siswa di pedalaman yang harus berjalan jauh dan tidak punya listrik sampai malam, tentang negara-negara yang membatasi PR dan tetap punya siswa berprestasi. Setiap argumen tersusun: pernyataan, alasan, bukti.
Pak Hidayat berhenti mengelap meja. Seorang tukang ojek yang mampir membeli rokok di warung sebelah berdiri di ambang pintu, ikut mendengar meski mungkin tidak mengerti semua kata.
Saat stopwatch menunjukkan enam menit empat puluh detik, Mei Lin menutup dengan kalimat yang rapi. "For these reasons, we are proud to propose." Lalu ia berdiri diam, masih menghadap dinding, bahunya naik turun.
Gus bertepuk tangan lebih dulu. Rahmat menyusul. Bahkan tukang ojek di pintu ikut bertepuk, lalu buru-buru pergi karena malu.
Mei Lin berbalik. Wajahnya merah sampai telinga, tapi untuk pertama kalinya Rahmat melihatnya hampir tersenyum.
"Bagus," kata Bu Sekar. "Sekarang kita punya masalah baru. Di lomba, tidak ada dinding."
Mereka berlatih sampai azan magrib terdengar dari masjid di ujung jalan. Setiap kali Mei Lin bicara, ia berdiri sedikit lebih jauh dari dinding, dan sedikit lebih menyamping. Pada percobaan terakhir, ia hanya menghadap jendela, sehingga separuh wajahnya terlihat oleh mereka. Suaranya goyah di tengah, tapi ia tidak berhenti.
Saat mereka berkemas, Pak Hidayat membungkus tiga potong roti srikaya dan menyodorkannya kepada Mei Lin. "Untuk di rumah. Kamu bicaranya bagus sekali, Nak. Om tidak mengerti semua, tapi Om tahu kalau orang bicara dengan sungguh-sungguh."
Mei Lin menerimanya dengan dua tangan dan membungkuk sedikit. "Terima kasih, Om."
Rahmat mengantar Mei Lin sampai ke depan gang. Langit sudah ungu, dan lampu-lampu di sepanjang Sungai Kapuas mulai menyala di kejauhan.
"Besok datang lagi, kan?" tanya Rahmat.
Mei Lin tidak langsung menjawab. Ia memandangi bungkusan roti di tangannya.
"Saya mau," katanya akhirnya. "Tapi ada satu masalah."
"Apa?"
"Mama saya belum tahu saya ikut lomba ini." Ia menggigit bibir. "Setiap sore saya harus jaga toko kelontong kami di Jalan Tanjungpura sampai jam sembilan malam. Hari ini saya bilang ada kerja kelompok. Besok saya tidak bisa bohong lagi."
Sebelum Rahmat sempat menjawab, ponsel Mei Lin berdering. Ia melihat layarnya dan wajahnya langsung pucat.
"Mama," bisiknya. Ia mengangkat telepon. Rahmat hanya mendengar suara perempuan dari seberang, cepat dan keras, dalam bahasa Tiochiu yang tidak ia pahami. Mei Lin hanya menjawab pendek-pendek.
Saat telepon ditutup, Mei Lin menatap Rahmat dengan mata yang mulai berair.
"Tetangga kami lihat saya di warung kopi," katanya. "Mama minta saya pulang sekarang. Dan katanya mulai besok, saya tidak boleh keluar rumah lagi selain ke sekolah."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!