Perempuan Bertopi di Mulut Gang
Pesanan ketiga masuk Selasa pagi, pukul 09.13.
Catatannya kali ini lebih panjang dari biasanya:
Mohon diikat pita biru. 17/3. Kalau bisa, selipkan kertas kosong di bawah pitanya. Siapa tahu ada yang mau membalas.
Tika membacanya dua kali, lalu menaruh ponsel di meja kemas pelan-pelan, seperti benda itu bisa pecah.
"Dia nunggu balasan, Mas," katanya. "Tiap minggu dia nunggu balasan."
Bima mengambil selembar kertas HVS dari printer, memotongnya seukuran kartu ucapan, lalu menyelipkannya di bawah pita. Ia ragu sebentar. Kemudian ia mengambil kertas kedua, lebih kecil, dan menulis dengan spidol:
Kami anak-anak Ibu Sri. Ibu sudah meninggal dua tahun lalu. Kalau Mbak Rara mau bicara, kami ada di garasi kerupuk di Rungkut. Kami tidak akan bilang apa-apa ke Kakek tanpa izin Mbak.
Bima.
Ia melipat kertas itu dan menyelipkannya di balik resi, di bagian belakang, tempat yang hanya akan terlihat oleh orang yang membuka paketnya.
"Mas yakin?" tanya Tika.
"Nggak," jawab Bima jujur. "Tapi kalau kita diam saja, minggu depan kita masih sama bingungnya."
Siang itu, Bima tidak ikut menunggu di garasi. Ia berangkat lebih dulu dan duduk di warung Pak Mansur, di bangku kayu yang menghadap ke mulut gang, dengan segelas kopi yang tidak ia minum.
Pak Mansur sudah diberi tahu rencananya, dan ia menanggapinya seperti orang yang menunggu pertandingan sepak bola. Ia memindahkan radio kecilnya supaya tidak berisik, lalu duduk di sebelah Bima dengan segelas kopi juga.
"Dulu waktu Rara kecil," katanya sambil memandang gang, "dia sering duduk di pos ronda itu, nunggu kakeknya pulang mengajar. Kalau kakeknya kelihatan di ujung jalan, dia lari, tasnya mental-mental di punggung. Satu kampung hafal."
"Bapak masih ingat wajahnya?"
"Wajah anak kecil, Mas. Sekarang pasti sudah lain." Pak Mansur menyesap kopinya. "Tapi cara jalan orang itu biasanya nggak berubah. Kalau dia lewat, saya pasti tahu."
Bima mengangguk dan kembali menatap mulut gang. Matahari sore memantul di atap seng. Seekor ayam menyeberang tanpa terburu-buru.
Mas Anto datang pukul tiga lewat sepuluh. Ia memberi kode kecil dengan dagu, lalu masuk ke gang dengan motor pelan-pelan, keranjangnya penuh. Paket berpita biru ada di paling atas.
Bima menunggu.
Lima menit. Sepuluh menit. Pak Mansur mengelap gelas yang sudah kering. Seorang anak lewat menuntun sepeda.
Lalu dari arah jalan besar, seorang perempuan berjalan cepat. Kaus hitam, celana kargo, topi hitam ditarik rendah sampai menutupi alis. Di bahunya tersampir tas selempang kecil. Ia tidak menoleh ke warung. Ia langsung masuk ke gang.
Bima berdiri.
"Tunggu dulu, Mas," bisik Pak Mansur. "Biar dia bayar dulu."
Dari tempatnya berdiri, Bima bisa melihat ujung gang. Mas Anto turun dari motor di depan rumah berjendela biru. Perempuan itu menghampirinya, mengeluarkan amplop dari saku, menyerahkannya. Mas Anto menyerahkan paket. Gerakan mereka singkat dan rapi, seperti transaksi yang sudah dilatih.
Perempuan itu berbalik. Paketnya ia dekap di dada. Saat itulah ia melihat pita biru dengan kertas putih terselip di bawahnya, dan langkahnya melambat.
Bima berjalan masuk ke gang.
"Mbak Rara?"
Perempuan itu mengangkat kepala. Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu di bawah bayangan topi. Matanya besar, dengan lingkaran gelap orang yang kurang tidur. Bima merasa pernah melihat mata itu, entah di mana, entah kapan.
Lalu perempuan itu berlari.
Bukan ke arah Bima, melainkan ke celah sempit di antara dua rumah yang bahkan tidak Bima sadari ada di sana. Ia menyelinap di antara tembok, melompati selokan kecil, dan hilang.
Bima mengejar dua langkah, lalu berhenti. Celah itu terlalu sempit untuk bahunya.
"Mas!" seru Mas Anto. "Ada yang jatuh!"
Di tegel kuning teras rumah nomor 17, tergeletak sebuah tali gantungan kartu identitas berwarna oranye.
Tali itu dari kain, sudah kusam, ujungnya berjumbai. Di ujungnya tergantung kartu plastik dengan logo yang langsung dikenali Mas Anto.
"Kilat Ekspres," katanya pelan. "Kan, saya bilang."
Kartu itu bertuliskan KURIR dengan huruf besar, nomor induk, dan sebuah nama:
Rara Wiryaningsih
Fotonya foto formal dengan latar merah. Rambutnya diikat, tanpa topi. Wajahnya tersenyum kaku, seperti orang yang diminta tersenyum oleh petugas foto.
Tapi yang membuat tangan Bima tiba-tiba dingin bukan kartunya.
Di tali yang sama, tergantung sebuah gantungan kunci kecil dari kayu. Bentuknya bulat pipih bergerigi, persis kerupuk udang. Di permukaannya, ada ukiran tangan yang sudah aus:
Ibu Sri
Bima mengenali gantungan kunci itu. Dulu, waktu ia SMP, Ibu memesan dua puluh buah dari perajin kayu di Pasar Atom. Ibu membagikannya kepada orang-orang yang membantu di rumah produksi saat musim Lebaran. "Biar mereka ingat," kata Ibu waktu itu, "di sini mereka pernah dihargai."
Bima sendiri tidak pernah dapat. Ia ingat merajuk soal itu.
"Mas Bima kenal?" tanya Mas Anto.
Bima membalik kartu identitas itu. Di baliknya, ada stiker kecil yang ditulisi dengan spidol: lokasi kerja dan jadwal.
Hub Rungkut Barat. Senin–Sabtu. 07.00–16.00.
Hub Rungkut Barat. Gudang Kilat Ekspres yang setiap hari Bima lewati kalau membeli plastik kemasan. Jaraknya kurang dari lima ratus meter dari garasi rumahnya.
Mas Anto bersiul pelan. "Wah, tetangga sendiri, Mas."
Pak Mansur sudah menyusul ke ujung gang, napasnya sedikit terengah. Ia memandang foto di kartu identitas itu lama sekali, lalu menggeleng-geleng dengan senyum yang aneh, setengah sedih setengah lega.
"Itu Rara," katanya. "Rambutnya lain, pipinya lebih tirus, tapi itu Rara. Larinya juga masih sama. Dulu dia lewat celah itu kalau dipanggil pulang makan dan belum mau."
Bima memandang celah sempit di antara dua tembok. Untuk anak kecil, celah itu pasti jalan rahasia. Untuk orang dewasa, celah itu cara melarikan diri dari pertanyaan.
Selama ini, perempuan itu ada di dekat mereka.
Dan menilik jadwal di kartu itu, ia pasti setiap hari melewati jalan depan garasi, tempat stiker Kerupuk Udang Ibu Sri tertempel besar-besar di pintu.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!