🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Perahu Tanpa Mesin

Perahu Pukul Lima · 26 Okt 2026 · 5 menit baca

Kali ini laut diam seperti kolam, dan justru itu yang membuat Andi gelisah.

Pukul lima kurang sepuluh, perahu Pak Mansur sudah menyala di dermaga. Penumpangnya ibu-ibu yang membawa keranjang ikan asin, dua pegawai kelurahan, dan seorang turis bule yang tidur memeluk ransel. Andi duduk di bangku kayu dekat jendela, memangku map plastik berisi fotokopi rapor, akta kelahiran, kartu keluarga, dan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan yang stempelnya masih basah kemarin sore.

Ayahnya tidak ikut. Katanya ada kerjaan.

"Kerjaan apa, Pak?" tanya Andi tadi di depan rumah.

"Kerjaan," jawab ayahnya, sambil memasang sandal. Lalu ia pergi ke arah dermaga timur, bukan ke perahunya sendiri.

Andi memikirkan itu sepanjang jalan ke Muara Angke.


Kampus di Depok luasnya seperti tiga pulau digabung jadi satu. Andi tersesat dua kali sebelum menemukan gedung tempat daftar ulang. Antreannya panjang, berisi anak-anak dengan orang tua yang membawa payung, kipas, dan map berwarna sama.

Andi sendirian. Ia memegang mapnya erat, seperti memegang tas ujian di perahu waktu itu.

"Statistika?" tanya petugas di meja, seorang mahasiswa berjaket almamater.

"Iya, Kak."

"Beasiswa?"

"Iya, Kak. Insya Allah."

Petugas itu mengetik, lalu memutar layar laptopnya sedikit. "Biaya kuliahmu ditanggung, aman. Tapi uang saku bulanan baru cair setelah verifikasi lapangan. Nanti ada petugas yang datang ke rumah. Biasanya dua sampai tiga bulan."

"Dua sampai tiga bulan," ulang Andi.

"Sementara itu, kos, makan, ongkos, ditanggung sendiri dulu." Petugas itu tersenyum minta maaf. "Banyak yang begitu, Dek. Nanti juga lewat."

Andi mengangguk. Di kepalanya, angka-angka mulai berbaris sendiri tanpa diminta. Kos paling murah di gang belakang kampus, enam ratus ribu. Makan, sehari dua kali nasi warteg, kira-kira seratus lima puluh ribu seminggu. Ongkos, buku, pulsa. Tiga bulan.

Hasilnya tidak bisa ia tunjukkan pada siapa pun.


Ia pulang naik perahu sore. Matahari tenggelam di belakang mereka, dan pulau-pulau kecil berderet seperti punggung kura-kura. Ia ingat bagaimana ayahnya menyusuri sisi pulau-pulau itu, membaca ombak satu per satu.

Ibunya menunggu di dermaga. Ayahnya tidak.

Malam itu, setelah makan, ibunya masuk ke kamar dan keluar membawa kaleng biskuit bergambar bunga mawar. Kaleng itu sudah ada sejak Andi kecil, dan setahu Andi isinya benang, jarum, dan kancing baju yang lepas.

Ibunya membuka tutupnya. Di atas tumpukan benang ada amplop cokelat, tebal.

"Buat kos," kata ibunya. "Buat tiga bulan."

Andi tidak menyentuhnya. "Bu, dari mana?"

"Tabungan."

"Ibu tidak pernah punya tabungan sebanyak ini."

Ibunya menutup kaleng itu lagi, pelan, seperti menutup sesuatu yang tidak boleh dilihat terlalu lama. "Kau itu suka sekali menghitung uang orang," katanya, setengah bercanda. Tapi matanya tidak ikut bercanda.

Saat ibunya menoleh ke lampu, Andi melihat sesuatu yang membuat dadanya dingin. Telinga ibunya kosong. Anting emas kecil berbentuk daun, satu-satunya perhiasan ibunya, hadiah pernikahan dari nenek, sudah tidak ada.

Ia tidak bertanya. Ia takut jawabannya.


Pukul tiga pagi, Andi terbangun oleh bunyi pintu.

Ia mengintip dari celah dinding papan. Ayahnya keluar membawa senter dan sebungkus nasi, tapi tidak membawa jerigen bensin seperti biasa. Tidak membawa jaring sendiri. Ia berjalan ke arah dermaga timur, tempat kapal bagan milik Juragan Darto bersandar.

Di pulau itu, semua orang tahu siapa yang ikut kapal Juragan Darto. Anak-anak muda yang belum punya perahu. Laki-laki yang perahunya rusak dan belum bisa dibetulkan. Orang yang bekerja untuk orang lain, digaji per malam, pulang membawa upah dan ikan sisa.

Ayahnya sudah dua puluh tahun melaut dengan perahunya sendiri.

Andi menunggu sampai ayahnya hilang di tikungan. Lalu ia memakai sandal dan berjalan ke ujung lain dermaga, ke tempat perahu kecil mereka ditambat.

Perahu itu masih ada. Catnya yang biru pudar, namanya yang ditulis ayahnya dengan tangan sendiri di lambung: Rezeki Pagi. Tali tambatnya rapi. Jaringnya terlipat di dalam.

Tapi di buritan, tempat mesin tempel biasanya terpasang, hanya ada papan kayu kosong dan dua lubang baut yang sudah mulai berkarat.

Andi berdiri lama di sana. Angin pagi membawa bau solar dan garam.

"Kau cari mesinnya?"

Ia terlonjak. Pak Mansur berdiri di belakangnya, membawa termos kopi, bersiap untuk perahu pukul lima.

"Pak Mansur tahu?"

Nakhoda tua itu menuang kopi ke tutup termos dan menyodorkannya pada Andi. Andi tidak meminumnya.

"Pagi itu, waktu bapakmu mengantarmu," kata Pak Mansur pelan, "di Muara Angke, mesinnya mati. Kemasukan air laut, dihantam ombak sepanjang jalan. Sudah tua juga. Montir bilang tidak bisa dihidupkan lagi, ongkos betulnya lebih mahal dari beli bekas."

"Tapi Bapak pulang naik perahunya sendiri."

"Bapakmu pulang kutarik." Pak Mansur menghirup kopinya. "Perahu sore. Kuikat di belakang kapalku. Mesinnya dia jual di sana, di tukang besi tua, buat ongkos ojekmu dan sedikit pegangan. Dia bilang mau jual ikan. Ikan apa? Pagi itu dia tidak bawa ikan sama sekali."

Andi teringat uang lima puluh ribu yang lusuh. Senyum ayahnya yang jarang. Sudah terlanjur di Jakarta.

"Dia larang aku cerita," lanjut Pak Mansur. "Katanya, kalau kau tahu, kau akan pikir ujianmu itu mahal. Lalu kau tidak mau berangkat."

Laut mulai berwarna abu-abu. Di dermaga timur, mesin kapal bagan Juragan Darto meraung hidup, dan dari kejauhan Andi melihat sosok ayahnya melompat naik, ringan, seperti orang yang sudah melakukannya sebulan penuh tanpa mengeluh.

Andi menghitung tanpa bisa berhenti. Harga mesin tempel bekas. Upah semalam di kapal bagan. Berapa malam yang dibutuhkan ayahnya untuk membeli kembali pagi itu.

Lalu ia berhenti menghitung, karena hasilnya membuatnya ingin melakukan sesuatu yang belum pernah ia pikirkan selama tiga tahun belajar di ujung dermaga.

Tidak berangkat.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

CV ATS & Lolos Wawancara Kerja

Banyak lamaran gagal bukan karena pelamarnya tidak mampu, melainkan karena CV-nya tidak terbaca sistem rekrutmen, pencapaiannya ditulis sebagai daftar tugas, atau jawaban wawancara...

Rp25.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu