Perahu di Bawah Rumah
Pulau itu tenggelam lagi pukul satu lewat sepuluh, pelan-pelan, seperti orang yang menarik selimut sampai ke kepala. Ardi dan Lina menontonnya dari batu sampai garis terakhirnya hilang dan laut kembali rata.
Mereka tidak mendayung ke sana malam itu. Perahu Atok sudah setahun tidak disentuh, dan Lina, dengan suara yang masih bergetar, menolak naik perahu "yang bahkan belum kuperiksa bautnya".
"Bulan mati berikutnya empat belas hari lagi," katanya sambil berjalan pulang. "Itu cukup untuk membetulkan perahu. Kalau pulau itu muncul lagi."
"Pasti muncul," kata Ardi.
"Aku tidak percaya," kata Lina. Lalu, setelah beberapa langkah: "Tapi aku juga tidak percaya mataku salah."
Perahu Atok adalah perahu kayu kecil bercat hijau dan putih, panjangnya tidak lebih dari empat meter. Namanya ditulis di lambung dengan cat merah yang sudah pudar: SALMAH. Selama setahun perahu itu tertelungkup di kolong rumah, diselimuti terpal dan sarang laba-laba.
Lina datang setiap sore sepulang sekolah membawa kotak perkakas ayahnya. Ia mengetuk-ngetuk papan lambung, mencungkil kayu yang lapuk, mengukur dengan meteran, mencatat di buku kecil. Ardi kebagian tugas mengamplas dan mengecat.
"Kayunya masih bagus," kata Lina pada hari ketiga, dengan nada sedikit kecewa, seolah ia berharap perahu itu rusak parah sehingga petualangan ini batal. "Atok kau merawatnya dengan benar. Lihat, sambungan di sini diberi damar. Ini kerja orang yang sayang perahunya."
Nek Salmah memperhatikan mereka dari beranda. Ia tidak bertanya apa-apa, tidak melarang, tidak juga menyemangati. Hanya sekali, ketika Ardi mengecat ulang nama SALMAH di lambung perahu, Ardi melihat neneknya berdiri lama di ujung tangga dengan tangan menutup mulut.
"Nek kenapa?" tanya Ardi.
"Catnya kurang rata," jawab Nek, lalu masuk.
Malam bulan mati tiba dengan langit bersih. Tanpa bulan, laut seperti tinta, dan bintang-bintang begitu banyak sampai Ardi merasa langit lebih ramai daripada kampung.
Mereka mendorong perahu ke air pukul sepuluh. Lina duduk di haluan dengan senter kepala dan kompas; Ardi di buritan, mendayung. Di dalam tas plastik kedap air ada peta Atok, kaset kusut, kerang putih, dan dua botol air.
"Ingat aturannya," kata Ardi untuk kesekian kalinya. "Bawa pulang satu, tinggalkan satu. Pulang sebelum air naik."
"Dan jangan ajak orang yang tidak percaya," tambah Lina. "Untung aku belum memutuskan."
Pukul sebelas lewat lima puluh, ketika air berhenti surut, pulau itu naik di depan mereka. Kali ini dari dekat, dan Ardi melihat hal-hal yang tidak terlihat dari pantai.
Pantainya bukan pasir. Pantainya sandal.
Ribuan sandal jepit, sebelah-sebelah, berbagai warna dan ukuran, bertumpuk rapi seperti sisik ikan. Perahu mereka menggesek tumpukan itu dengan bunyi lembut, bukan bunyi kayu di atas pasir. Lina mengangkat senter, lalu terdiam lama.
Di balik deretan sandal ada pohon-pohon yang bukan pohon. Batangnya tumpukan payung lipat, daunnya layang-layang. Ratusan layang-layang tersangkut di dahan-dahan, bergoyang pelan walau tidak ada angin. Ada layang-layang kertas minyak, layang-layang plastik bergambar kartun, layang-layang aduan dengan benang gelasan yang masih berkilat.
"Itu punyaku," bisik Lina, menunjuk satu layang-layang hijau bergambar ikan. "Yang putus waktu kelas dua."
Ia tidak berlari ke sana. Ia hanya berdiri dengan senter gemetar di tangan.
Mereka berjalan ke tengah pulau mengikuti jalan setapak yang dilapisi kunci. Kunci rumah, kunci motor, kunci lemari, kunci gembok kecil. Semua berdenting pelan setiap kali diinjak. Di kiri kanan jalan ada rak-rak dari kayu apung, berisi barang-barang yang membuat Ardi ingin tertawa sekaligus sedih: kacamata baca, cincin, jepit rambut, surat yang tidak pernah sampai, mainan kecil dari bungkus jajanan, pulpen yang dicari-cari menjelang ujian.
Di puncak pulau, berdiri bangunan yang dari pantai tampak seperti mercusuar. Dari dekat, Ardi melihat itu memang mercusuar, tapi kecil dan miring, dicat merah putih yang sudah mengelupas. Lampu di puncaknya berkedip pelan.
Di depan pintunya duduk seorang perempuan tua di kursi rotan, merajut sesuatu dari benang-benang layang-layang yang putus.
"Kalian datang dengan perahu Salmah," katanya tanpa mengangkat kepala.
Ardi dan Lina berhenti di tempat.
"Nenek kenal nenekku?" tanya Ardi.
Perempuan itu akhirnya mendongak. Rambutnya putih panjang dikepang, matanya jernih sekali. Ia memakai kebaya pudar yang dulunya mungkin kuning.
"Panggil aku Mak Suri," katanya. "Aku juru simpan di sini. Siapa pun yang naik ke pulau ini datang dengan perahu, dan aku ingat semua nama perahu." Ia menatap Ardi lama. "Kau cucu Hamid."
"Atok sudah meninggal," kata Ardi. Suaranya pecah di tengah kalimat, dan ia malu.
"Aku tahu," kata Mak Suri pelan. "Semua yang hilang dari dunia kalian sampai juga kabarnya ke sini. Kau datang mencari apa?"
Ardi mengeluarkan kaset kusut dari tas plastik.
"Suara Atok," katanya. "Ini satu-satunya rekaman. Pitanya putus."
Mak Suri meletakkan rajutannya. Ia bangkit dengan susah payah, mengambil lentera dari paku di dinding, dan memberi isyarat agar mereka mengikutinya ke balik mercusuar.
Di sana ada pantai kecil yang tidak terlihat dari tempat mereka datang. Pantai itu tidak dilapisi sandal atau kunci. Pantai itu dilapisi kerang. Ribuan kerang putih, persis seperti kerang di kaleng biskuit Atok, bertumpuk sampai ke batas air.
Dan semua kerang itu bersuara.
Mula-mula seperti desis ombak. Lalu, ketika Ardi berdiri diam, desis itu berubah menjadi ribuan bunyi yang tumpang-tindih: tawa anak kecil, siulan, potongan lagu, nama yang dipanggil, kalimat setengah jadi, dengkur, doa, batuk, pantun.
"Suara yang hilang disimpan di sini," kata Mak Suri. "Suara yang terlupakan, suara yang tidak sempat didengar, suara yang rekamannya rusak. Kalau suara kakekmu ada di sini, ia ada di salah satu kerang ini."
Ardi menatap pantai itu. Ribuan, mungkin puluhan ribu kerang, sampai ke air.
"Berapa lama waktu kami?" tanya Lina. Suaranya sudah kembali praktis, seperti suara anak montir yang menghitung bahan bakar.
Mak Suri menatap langit, lalu laut.
"Air naik dua jam lagi," katanya. "Dan ingat, anak-anak. Kalau air menyentuh kaki mercusuar dan kalian masih di sini, kalian juga akan menjadi sesuatu yang hilang."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!