Sepeda Hias untuk Ambu
RANTAI ONTEL AMBU. TARGET: 200.000.
Abah melihat tulisan itu keesokan paginya, saat mengambil kunci dari rak. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berdiri lama di depan kaleng biskuit bergambar bunga, lalu keluar ke depan bengkel dan duduk lama di bangku kayu dengan segelas kopi hitam yang dibiarkannya dingin, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelum membuka bengkel.
Fajar bekerja lebih keras dari sebelumnya. Ia datang ke bengkel sebelum Abah bangun, menyapu lantai, menyusun ban dalam bekas menurut ukuran, dan menunggu pelanggan pertama di bangku plastik. Ketika pelanggan sepi, ia berjalan ke warung-warung di sekitar alun-alun dan bertanya apakah ada sepeda yang perlu ditambal. Mang Dadang si penjual tahu memberitahu teman-temannya. Tukang cukur di sebelah bengkel membawa sepeda anaknya yang sudah setahun kempis.
Dalam empat hari, kaleng itu berisi seratus delapan puluh ribu.
Pada hari kelima, Fajar menelepon toko onderdil sepeda di Bandung yang nomornya ia temukan di buku hijau Abah. Rantai ontel model lama masih ada, tinggal dua. Harganya seratus sembilan puluh lima ribu, ditambah ongkos kirim dua puluh ribu.
"Bisa sampai sebelum tanggal dua puluh delapan, Pak?"
"Kalau ditransfer hari ini, lusa sampai, Jang."
Fajar menatap kaleng. Kurang tiga puluh lima ribu.
Malam itu ia menelepon ayahnya.
Mereka belum bicara sejak Fajar berangkat ke Garut. Ayahnya mengangkat di dering keempat, suaranya lelah, terdengar suara keyboard di belakang.
"Jar? Ada apa? Abah sehat?"
"Sehat, Yah." Fajar memainkan tutup kaleng di tangannya. "Yah, aku mau pinjam uang. Tiga puluh lima ribu."
Hening. Lalu ayahnya tertawa kecil, tawa yang sudah lama tidak Fajar dengar. "Tiga puluh lima ribu? Buat apa? Kamu kan biasanya minta sejuta buat game."
Fajar menceritakan semuanya. Ban yang ditambal, uang lima ribu yang sebenarnya cuma tiga ribu, buku hijau Abah dengan tulisan rugi 2.000, rantai sepeda gunung yang putus, dan sepeda ontel hijau tua di pojok bengkel yang diselimuti kain batik.
Ketika ia selesai, ayahnya tidak bicara untuk waktu yang lama. Suara keyboard di belakang sudah berhenti.
"Sepeda Ambu masih ada?" tanya ayahnya akhirnya. Suaranya berbeda, lebih pelan.
"Masih, Yah. Abah lap terus sadelnya."
"Ayah belajar naik sepeda pakai sepeda itu." Hening lagi. "Ambu yang dorong dari belakang. Abah sibuk di bengkel."
Fajar tidak tahu harus berkata apa.
"Ayah transfer sekarang," kata ayahnya. "Tapi bukan pinjam. Anggap saja Ayah ikut patungan. Boleh?"
"Boleh, Yah."
"Dan Jar," ayahnya berhenti sebentar, "tanggal dua puluh delapan Ayah ambil cuti. Ayah sama Ibu ke Garut."
Dua hari berikutnya, Fajar tetap menambal ban seperti biasa, meski targetnya sudah tercapai. Ketika Abah bertanya kenapa, Fajar hanya mengangkat bahu. "Biar kalengnya tidak kosong lagi, Bah." Abah tidak menjawab, tapi malam itu Fajar melihatnya menulis sesuatu di buku hijau, lalu tersenyum sendiri.
Rantai itu sampai dua hari kemudian, dibungkus kertas minyak dan kardus kecil. Fajar membukanya di depan Abah seperti membuka hadiah ulang tahun.
Abah memegang rantai itu, memeriksanya mata demi mata di bawah cahaya matahari pagi. Tangannya yang hitam oleh oli bergetar sedikit.
"Pasang sama Abah?" tanya Fajar.
Abah menggeleng. "Kamu yang pasang. Abah yang lihat."
Butuh satu jam. Fajar membuka sambungan rantai lama yang putus, memasang rantai baru di gir depan dan belakang, menyambungnya dengan alat penyambung yang Abah ajarkan, lalu menyetel ketegangannya pelan-pelan, mengingat kesalahannya pada sepeda gunung si mahasiswa. Tidak terlalu kencang. Tidak terlalu kendur. Ketika ia memutar pedal dengan tangan, rantai itu berputar mulus dengan bunyi tik-tik-tik yang halus.
Abah lalu mengajari Fajar memompa ban, mengencangkan rem karet, dan meminyaki per sadel kulit yang retak itu. Terakhir, Abah sendiri yang mengelap seluruh rangka hijau tua itu sampai garis emas tipisnya berkilau lagi.
"Lomba sepeda hias itu boleh pakai sepeda apa saja?" tanya Abah.
"Boleh, Bah. Yang penting dihias."
Abah masuk ke kamar belakang dan keluar membawa sebuah kotak kardus. Isinya bunga-bunga kertas krep berwarna merah dan putih, sudah agak kusut tapi masih utuh, dan secarik bendera kecil.
"Ambu bikin ini tiap tujuh belasan," kata Abah. "Buat hias sepedanya ke pasar."
Pada tanggal dua puluh delapan Oktober, di lapangan sekolah Fajar di Bandung, di antara puluhan sepeda BMX dan sepeda gunung yang dihias dengan balon dan pita plastik, ada satu sepeda ontel hijau tua dengan keranjang rotan penuh bunga kertas krep merah putih dan gelang manik-manik di setangnya.
Fajar mengayuhnya pelan mengelilingi lapangan. Di pinggir lapangan, ibunya melambai dengan perut yang mulai membesar. Ayahnya merekam dengan ponsel, matanya merah. Dan di sebelah mereka, berdiri dengan kemeja batik terbaiknya dan peci hitam, Abah Encep, yang pertama kali datang ke Bandung dalam sepuluh tahun.
Fajar tidak menang. Juara satu diraih sepeda BMX yang dihias seperti kapal pinisi. Tapi ketika ia turun dari sepeda, seorang guru tua menghampirinya dan memegang setang ontel itu dengan takjub.
"Ini sepeda sungguhan zaman dulu," katanya. "Siapa yang merawatnya?"
Fajar menoleh pada Abah, yang berdiri agak jauh di belakang, berusaha tidak terlihat.
"Kakek saya," kata Fajar. "Dan saya yang pasang rantainya."
Malam itu, kembali di bengkel, Fajar mengambil kaleng biskuit bergambar bunga. Isinya tinggal dua ribu rupiah, uang kembalian ongkos kirim. Ia mengambil spidol, mencoret lagi tulisan di tutupnya, dan menulis yang baru:
BENGKEL ABAH. TARGET: LIBURAN DEPAN.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!