🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Sagu Lempeng dan Bau Pala

Resep yang Diwariskan · 25 Okt 2026 · 5 menit baca

Kalau ditanya apa bau Fakfak, Theresia akan menjawab: pala.

Pala yang dijemur di pinggir jalan, di atas terpal dan tikar, merah fuli-nya mencolok di antara biji cokelat tua. Pala di dapur Mama Tua, nenek Theresia, yang selalu memarut sedikit ke dalam apa saja, dari kuah ikan sampai teh hangat. Pala di kebun keluarga di lereng bukit, pohon-pohon tinggi yang ditanam kakek buyutnya.

Tapi Theresia sudah tujuh tahun tidak mencium bau itu. Ia kuliah di Manokwari, lalu bekerja di Makassar, dan pulang hanya ketika Mama Tua jatuh sakit dan bertanya, lewat telepon yang suaranya terputus-putus, "Ko masih ingat cara bakar sagu lempeng?"

Theresia tidak ingat.


Sagu lempeng adalah roti sagu berbentuk lempengan persegi, dicetak dan dibakar dalam cetakan tanah liat bersekat yang disebut forna. Ia keras di luar, gurih di dalam, dan bisa tahan lama. Mama Tua membuatnya setiap minggu, untuk dimakan dengan teh atau dicelup ke kuah ikan, dan untuk dibekalkan kepada anak-cucu yang pergi jauh.

Waktu kecil, Theresia duduk di sebelah tungku dan tugasnya hanya satu: memberi tahu Mama Tua kalau sagu di sekat paling ujung sudah berubah warna. Ia tidak pernah belajar menakar, tidak pernah belajar mengatur bara.

Sekarang Mama Tua terbaring di kamar, lemah setelah demam berhari-hari, dan forna tanah liat itu menganggur di sudut dapur, dingin dan berdebu.

"Ko bakar," kata Mama Tua dari kasur. "Sa mau makan sagu lempeng buatan ko."


Percobaan pertama, Theresia memanaskan forna terlalu sebentar. Tepung sagu yang ia masukkan ke sekat-sekat tidak matang, hanya mengering di atas dan tetap mentah di bawah.

Percobaan kedua, ia terlalu bersemangat dengan bara. Sagu lempengnya hangus, hitam di pinggir, pahit di lidah.

Ia hampir menyerah ketika tetangga sebelah, Mama Agustina, mampir membawa ikan asar dan melihat tumpukan sagu gagal di meja.

"Ko bikin sagu lempeng atau batu bata?" tanyanya sambil tertawa.

Theresia ikut tertawa, malu. "Sa lupa semua, Mama."

Mama Agustina duduk di bangku dapur. "Tra apa. Ko bukan lupa. Ko cuma belum ingat." Ia mengambil sejumput tepung sagu, merasakannya di antara jari. "Sagu ini sudah terlalu kering. Ko perciki air sedikit, ayak, supaya dia lembap tapi tra basah. Rasanya seperti pasir pantai setelah ombak mundur."

Theresia mencoba. Ia memercikkan air, mengayak, meremas sedikit di tangan. Tepung itu menggumpal sebentar lalu hancur pelan. Seperti pasir pantai.

"Nah. Itu dia," kata Mama Agustina. "Sekarang forna-nya. Ko taruh di bara sampai panasnya rata. Coba percik air. Kalau airnya langsung menari dan hilang, baru siap."


Percobaan ketiga, Theresia menunggu sampai percikan air menari di permukaan forna. Ia mengisi sekat-sekat dengan tepung sagu, menekan pelan, lalu menaburkan sedikit pala parut dan gula merah di beberapa sekat, seperti yang dulu dilakukan Mama Tua untuk cucu-cucunya.

Ia menutup forna dan menunggu. Kali ini ia tidak memeriksa ponsel. Ia duduk di bangku kecil, seperti waktu masih kecil, memandangi sekat paling ujung.

Warnanya berubah. Pelan-pelan, dari putih ke krem, lalu ke cokelat muda di pinggir.

"Mama Tua! Sekat ujung sudah berubah warna!" teriaknya tanpa sadar, persis seperti dua puluh tahun lalu.

Dari kamar, terdengar tawa lemah. "Angkat sekarang, ko anak pintar."

Sambil menunggu lempeng-lempeng berikutnya matang, Mama Agustina bercerita tentang Mama Tua waktu muda. Katanya, dulu Mama Tua yang paling cepat memanjat pohon pala di kampung, mengalahkan anak laki-laki. Katanya, waktu kapal dari Ambon datang membawa barang, Mama Tua selalu menukar sagu lempeng buatannya dengan kain dan buku cerita untuk anak-anaknya. "Mama Tua ko itu pedagang pintar," kata Mama Agustina. "Tra pernah rugi, karena sagu lempengnya paling enak satu teluk."

Theresia mendengarkan sambil terus memandangi forna. Ia merasa seperti sedang membaca buku tentang keluarganya sendiri yang selama ini tidak pernah ia buka.


Theresia membawa sagu lempeng yang masih hangat ke kamar, dengan segelas teh yang ia beri sedikit parutan pala. Mama Tua bersandar di bantal, mengambil satu lempeng, mencelupkannya ke teh, lalu menggigit pelan.

Ia mengunyah lama. Theresia menahan napas.

"Pala-nya terlalu banyak," kata Mama Tua.

Theresia menunduk.

"Sa juga dulu begitu," lanjut Mama Tua, tersenyum. "Waktu masih muda, sa pikir semakin banyak pala semakin enak. Mama sa bilang, pala itu seperti kenangan. Sedikit saja sudah cukup bikin orang ingat rumah. Kalau terlalu banyak, orang jadi sedih."

Ia makan lempeng kedua. Lalu ketiga.

"Tapi hari ini sa boleh sedikit sedih," katanya. "Cucu sa pulang."


Malam itu, Theresia menelepon ibunya di Makassar dan bercerita tentang forna, tentang pasir pantai setelah ombak mundur, tentang pala yang tidak boleh terlalu banyak. Ibunya tertawa di seberang. "Itu kalimat Mama Tua sejak dulu," katanya. "Mama dulu juga dimarahi soal pala."

Theresia tinggal dua minggu lebih lama dari rencananya. Setiap pagi ia membakar sagu lempeng bersama Mama Tua yang pelan-pelan pulih, duduk di bangku dapur dan memberi perintah. Mama Agustina mampir setiap sore membawa ikan dan cerita.

Pada hari kepulangannya ke Makassar, Theresia membawa satu kantong sagu lempeng, dibungkus kertas cokelat dan diikat tali. Di bandara Torea, petugas bertanya apa isi kantongnya.

"Sagu lempeng," jawab Theresia. Lalu, setelah berpikir sebentar, ia menambahkan, "Dan sedikit pala. Tidak terlalu banyak."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Resep yang Diwariskan”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Resep Rumahan Nusantara

Masakan rumahan yang enak tidak harus rumit. Kuncinya ada pada bumbu dasar yang tepat dan takaran yang jelas. Buku ini mengumpulkan 18 resep sehari-hari ditambah tiga bumbu dasar d...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu