🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Yang Hilang Sungguhan

Sandal Baru di Teras Masjid · 24 Okt 2026 · 5 menit baca

"Mang, sandal saya hilang."

Mang Ujang sudah membuka mulut untuk menjawab dengan kalimat bakunya, coba cek di kardus gudang dulu, ketika ia melihat siapa yang bicara. Haji Odang berdiri di ujung teras dengan kaki telanjang, memegang tongkat, wajahnya lebih bingung daripada marah.

"Yang cokelat, Ji? Yang baru?"

"Yang baru. Yang ada hurufnya." Haji Odang menghela napas. "Tadi saya taruh di sini, di pojok, dekat tiang. Sekarang tidak ada. Tidak ada gantinya juga."

Mang Ujang memeriksa teras dari ujung ke ujung. Sandal jepit, sandal gunung, selop plastik, sepatu kets anak sekolah yang dicopot terburu-buru. Tidak ada sandal kulit cokelat dengan huruf K kecil di bagian dalam tali.

Ia meminjamkan sandal dari kardus gudang kepada Haji Odang, sepasang selop plastik biru yang kebesaran, dan mengantar lelaki tua itu sampai gerbang. Waktu kembali, ia berdiri lama di depan tiang pojok.

Tiga bulan sudah sejak ia memergoki Kang Karim di teras ini. Tiga bulan teras masjid perlahan dipenuhi sandal kulit yang rapi. Tiga bulan rahasia itu ia simpan rapat-rapat, bahkan dari istrinya sendiri.

Dan baru sekarang, untuk pertama kalinya, ada yang hilang sungguhan.


Seminggu kemudian, giliran sandal merah bata Mak Iyah. Jumat berikutnya, sandal gunung hitam Pak Endang.

Kampung, yang dulu menyebut pertukaran itu rezeki Jumat, mulai mengubah ceritanya.

"Saya bilang juga apa," kata Bu Enok di warung sayur, cukup keras supaya terdengar sampai pangkalan ojek. "Mana ada orang kasih barang gratis tanpa maksud. Dikasih, dibikin senang, terus diambil lagi. Itu namanya mainin orang tua."

"Atau memang dari awal mau dijual," sambung Kang Dadan. "Dikasih dulu biar kelihatan bekas, terus diambil, dijual lagi. Pintar itu."

"Pintar dari mana? Bodoh. Masa sandal bekas lebih mahal dari sandal baru?"

"Ya mana saya tahu, saya kan bukan pencuri."

Mang Ujang mendengar semua itu sambil membeli tempe, dan tempenya terasa lebih berat daripada biasanya.

Yang paling menyakitkan adalah Haji Odang. Lelaki tua itu kembali memakai sandal lamanya, yang talinya disambung kawat, yang ternyata ia simpan di bawah ranjang. "Untung belum saya buang," katanya kepada Mang Ujang sambil tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Barang pemberian itu memang tidak boleh terlalu dicintai, Jang. Nanti sakit kalau diambil."


Malam itu, Mang Ujang mengetuk pintu rumah Kang Karim di gang belakang pasar. Bau lem dan kulit menyambutnya bahkan sebelum pintu terbuka.

Kang Karim sudah tahu. Ia duduk di bangku kerjanya di antara tumpukan pola kertas karton, gunting besar, dan potongan kulit yang digantung seperti ikan asin. Matanya merah.

"Saya mau berhenti saja, Mang," katanya sebelum Mang Ujang sempat duduk. "Nazar saya jadi bikin orang tua sedih. Jadi bikin kampung saling curiga. Mungkin memang dari awal niat saya salah."

"Jangan dulu, Kang."

"Mang dengar sendiri orang-orang bilang apa. Si pemberi itu penipu. Si pemberi itu mainin orang tua." Ia tertawa kering. "Lucu. Saya sembunyi supaya tidak dipuji. Sekarang saya sembunyi sambil dimaki."

Mang Ujang diam sebentar. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik hitam yang dibawanya dan meletakkannya di bangku kerja.

Sepasang sandal gunung hitam. Perekatnya masih kuat. Di bagian dalam talinya ada jahitan kecil huruf K.

Kang Karim menatapnya, lalu menatap Mang Ujang.

"Saya temukan sore tadi," kata Mang Ujang. "Di lapak loak Pasar Ciawitali, dekat tukang servis jam. Dijual seratus lima puluh ribu. Saya tawar jadi seratus. Uang belanja istri saya seminggu, jadi tolong jangan bilang siapa-siapa."

"Penjualnya bilang dapat dari mana?"

"Dari anak kecil. Katanya anak itu datang tiap Sabtu pagi, bawa satu pasang, minta dibayar tunai. Tidak mau ditawar rendah. Tahu harga." Mang Ujang mengetuk jahitan K itu dengan telunjuk. "Anak itu tahu sandal ini bagus, Kang. Dia tahu yang mana yang buatanmu. Dia tidak ambil sandal lain."

Kang Karim mengerutkan dahi. "Jadi dia memperhatikan."

"Seperti saya dulu."


Jumat berikutnya, Mang Ujang tidak berdiri di serambi, tidak juga salat di saf belakang. Ia meminta izin kepada Ustaz Hilman untuk salat Jumat lebih dulu di masjid kampung sebelah yang khutbahnya selesai lebih cepat, lalu berlari pulang lewat pematang sawah dan masuk ke gudang masjid dari pintu belakang, sebelum azan kedua.

Gudang itu sempit dan pengap. Kardus sandal tak bertuan, gulungan karpet cadangan, ember pel, dan pengeras suara rusak yang tidak pernah dibuang. Ada celah selebar dua jari di antara papan dinding, tepat menghadap teras sisi timur.

Mang Ujang menempelkan matanya ke celah itu dan menunggu.

Khutbah berlangsung. Teras penuh sandal. Seekor kucing belang tidur di atas keset. Di jalan, tukang cilok lewat dengan bel kecil yang berdenting.

Ia sudah mulai mengantuk, dihantam hawa panas dan bau karpet lembap, ketika iqamah berkumandang dan seluruh jamaah berdiri. Pada saat yang sama, dari arah tangga teras, ia mendengar langkah kaki kecil.

Langkah itu tidak terburu-buru. Ia berjalan seperti orang yang sudah biasa berada di sana, seperti orang yang punya urusan.

Sebuah tangan kecil menyelinap di antara deretan sandal. Mengangkat satu, membaliknya, melihat bagian dalam tali. Meletakkannya lagi. Mengangkat yang lain. Membaliknya.

Mencari huruf K.

Mang Ujang menahan napas. Tangan itu berhenti pada sepasang sandal kulit cokelat milik Pak Darsa, guru ngaji yang sandal lamanya diganti dua bulan lalu. Tangan itu memasukkan sandal itu ke dalam kantong kresek hitam dengan gerakan yang cepat dan rapi.

Lalu pemilik tangan itu berbalik, dan cahaya siang jatuh tepat di wajahnya.

Mang Ujang hampir menjatuhkan ember pel.

Ia mengenal wajah itu. Ia mengenalnya lebih baik daripada wajah jamaah mana pun. Setiap Jumat selama dua tahun, wajah itu berdiri di sampingnya di teras ini, membantunya merapikan sandal sebelum khutbah, memisahkan yang kiri dari yang kanan, mengumpulkan sandal yang tertukar, lalu dibayar dengan dua bungkus cilok dan tepukan di kepala.

Ilham. Tiga belas tahun. Anak yang paling rajin menjaga sandal di masjid ini.

Anak itu menoleh ke kiri dan ke kanan, memeluk kantong kreseknya, lalu berlari menuruni tangga, tepat ketika imam mengangkat takbir.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Jualan dari Rumah: 30 Hari Pertama

Punya produk rumahan tapi bingung harus mulai berjualan online dari mana? Buku ini memberimu jadwal 30 hari: satu atau dua tugas setiap hari, dari memilih produk sampai toko di Sho...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu