Tas Biru yang Tertukar
"Arman! Arman!"
Bu Ratna tidak pernah berteriak di kapal. Sepuluh tahun bolak-balik, ia selalu menjadi penumpang yang tenang, yang menasihati ibu-ibu muda supaya tidak panik, yang membagikan minyak kayu putih kepada orang yang mabuk laut. Tetapi pagi itu, di dek empat yang penuh sesak, suaranya melengking seperti peluit kapal.
Arman datang berlari dari ujung lorong. Wajahnya berubah pucat ketika melihat Bu Ratna memegang tas biru yang bukan miliknya.
"Tertukar, Man. Kebayanya. Kebaya Nona Ita."
"Tenang, Bu. Tenang dulu."
"Bagaimana mau tenang? Sabtu menikah!"
Ibu muda di ranjang sebelah menutup mulut dengan tangan. "Ya Allah, Bu, maaf. Tadi ada bapak-bapak naruh tas di sini, terus anak saya jatuh, saya nggak lihat..."
"Bukan salahmu, Dik." Bu Ratna menarik napas panjang, memaksa dirinya berpikir. "Yang punya tas ini pasti turun di Makassar. Dia ambil tas saya karena warnanya sama."
Arman memeriksa tas itu. Di dalamnya ada sarung, kotak kue kering, dan sebuah amplop cokelat. Di amplop tertulis nama dengan spidol: Pak Haris – SMP Negeri, Maros.
"Maros," kata Arman. "Dekat sini, Bu. Satu jam dari pelabuhan."
"Kapal berangkat dua jam lagi."
Mereka saling pandang. Lalu Arman melirik jam tangannya, mengambil keputusan.
"Ibu turun. Cari di dermaga. Saya urus dari sini."
Dermaga Soekarno-Hatta pagi itu seperti sarang semut yang diganggu. Ribuan orang, karung, kardus, motor yang diturunkan dari lambung kapal, teriakan buruh angkut, klakson taksi. Bu Ratna berdiri di ujung tangga kapal dan memandang lautan kepala manusia di bawahnya, mencari satu lelaki yang tidak ia kenal wajahnya, yang membawa tas biru.
Ia turun, berjalan cepat di antara orang-orang, mengangkat tas biru milik Pak Haris tinggi-tinggi di atas kepala. "Pak Haris! Ada yang namanya Pak Haris? Tas tertukar!"
Orang-orang menoleh, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
Seorang remaja laki-laki kurus, buruh angkut dengan kaus bertuliskan nama klub sepak bola Makassar, berhenti di depannya. Umurnya mungkin lima belas. "Tas biru, Bu? Tadi saya angkat tas biru kayak gitu. Bapak-bapak pakai peci, kacamata. Dia naik pete-pete ke arah luar."
"Kamu ingat ke mana?"
"Ke terminal, kayaknya. Mau ke Maros, dia bilang ke temannya."
Bu Ratna memegang lengan anak itu. "Nama kamu siapa?"
"Accung, Bu."
"Accung, kamu bisa antar saya ke terminal?"
Accung memandangi kapal, lalu Bu Ratna, lalu tas biru di tangannya. "Ibu kapal berangkat jam berapa?"
"Dua jam lagi. Kurang."
Accung menggaruk kepala. Lalu ia berteriak memanggil temannya yang punya motor.
Terminal itu ternyata lebih jauh dari dugaan. Bu Ratna duduk di jok belakang motor, memeluk tas Pak Haris, sementara teman Accung meliuk di antara mobil dengan kecepatan yang membuat jantungnya nyaris copot. Accung mengikuti dengan motor lain.
Mereka bertanya ke setiap sopir angkutan jurusan Maros. Tidak ada yang ingat bapak berpeci dengan tas biru. Seorang sopir bilang ada yang naik setengah jam lalu. Sopir lain bilang tidak ada. Matahari mulai tinggi dan panas.
Bu Ratna melihat jam di ponselnya. Satu jam lagi kapal berangkat.
Di sebuah warung dekat terminal, seorang ibu penjual pisang epe mendengar cerita mereka dan langsung ikut sibuk. Ia menelepon adiknya yang menjadi sopir angkot jurusan Maros, menanyai apakah ada penumpang berpeci dengan tas biru. Adiknya tidak tahu, tetapi berjanji bertanya ke sopir lain. Ibu itu lalu menyodorkan segelas es teh kepada Bu Ratna tanpa mau dibayar. "Minum dulu, Bu. Orang panik itu kepalanya panas. Kepala panas tidak bisa berpikir."
Bu Ratna meminumnya karena tidak punya tenaga untuk menolak. Lalu ia berdiri di bawah pohon di pinggir terminal, napasnya tersengal, keringat membasahi kerudung. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia merasa benar-benar gagal. Dua puluh dua titipan aman di bawah ranjang. Satu yang paling penting hilang di jalanan kota yang tidak ia kenal.
Ponselnya berdering. Arman.
"Bu! Ada nomor telepon di amplop Pak Haris. Saya telepon. Diangkat istrinya. Pak Haris memang turun di Makassar dan naik angkot ke Maros. Istrinya sudah telepon dia."
"Lalu?"
"Pak Haris sudah sampai Maros, Bu. Baru buka tas. Kaget lihat kebaya. Dia mau balik ke pelabuhan, tapi..." Arman ragu.
"Tapi apa?"
"Tidak keburu, Bu. Kapal berangkat empat puluh menit lagi. Dari Maros ke pelabuhan satu jam lebih kalau macet."
Bu Ratna memejamkan mata. Di sampingnya, Accung dan temannya menunggu tanpa bicara.
"Bu," kata Arman pelan di telepon. "Ibu harus naik kapal. Karung titipan yang lain di sini. Kalau Ibu ketinggalan, semua titipan ikut telat."
Bu Ratna membuka mata. Ia memandangi tas biru milik Pak Haris di pelukannya: sarung, kue kering, amplop. Barang yang juga dititipkan seseorang, untuk seseorang.
"Man," katanya. "Minta nomor Pak Haris. Saya mau bicara langsung."
Suara Pak Haris di telepon pelan dan penuh penyesalan. Ia guru SMP, baru pulang dari pelatihan di Surabaya, membawa oleh-oleh untuk keluarganya. Ia minta maaf berkali-kali, sampai Bu Ratna harus memotongnya.
"Pak, kebayanya sekarang di tangan Bapak. Tolong dijaga seperti dijaga anak sendiri. Jangan dibuka lagi, jangan dilipat ulang."
"Iya, Bu. Iya. Tapi bagaimana mengirimnya ke Ambon? Paket biasa tidak akan sampai sebelum Sabtu."
Bu Ratna terdiam. Ia tahu itu. Kapal berikutnya ke Ambon baru minggu depan. Paket udara mungkin, tetapi kebaya pengantin dengan payet tidak boleh ditekuk di antara kardus-kardus jasa kirim.
Lalu Accung, yang dari tadi mendengarkan, berkata pelan, "Bu, kakak sepupu saya perawat. Besok lusa terbang ke Ambon, mau jaga nenek yang sakit."
Bu Ratna menoleh dan menatap anak lima belas tahun itu lama sekali.
Dari kejauhan, bunyi peluit kapal terdengar panjang, memanggil penumpang terakhir.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!