🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Jaring Bintang Delapan

Canting yang Tidak Pernah Kering · 26 Okt 2026 · 5 menit baca

Pada minggu kedua, Mbok Tun akhirnya mengizinkan Sari menyentuh kain pesanan.

Bukan bagian utama. Hanya pinggiran, garis lurus yang mengelilingi motif Jlamprang seperti bingkai. Tapi ketika Sari duduk di depan gawangan besar itu, di depan kain yang akan dipakai pengantin di hari paling penting dalam hidupnya, tangannya terasa seperti milik orang lain.

"Jangan dipikir orangnya," kata Mbok Tun yang duduk di sisi lain kain, mencanting bagian tengah dengan kaca mata tebal. "Pikir garisnya saja. Orangnya nanti biar senang sendiri."

Sari menarik napas. Celup. Tahan. Tiup. Lepas.

Satu garis selesai. Lalu satu lagi. Siang itu ia menyelesaikan seperempat bingkai, dan Mbok Tun hanya menyuruhnya mengulang dua bagian kecil dengan menimpanya hati-hati.

Pak Harjo kini bisa duduk di kursi rotan di ruang tengah, kakinya diselonjorkan di atas dingklik. Ia mengawasi dua perempuan di depannya bekerja, sesekali menunjuk dengan tangan yang gemetar. "Itu, Tun, bintang yang kesembilan, ujungnya kurang tajam." "Ri, cantingmu kepenuhan, kurangi."

Di sela-sela itu, Sari bertanya tentang motif yang sedang mereka kerjakan.

"Jlamprang itu motif lama Pekalongan," kata ayahnya. "Polanya jaring, berulang terus seperti tidak ada ujungnya. Mbah Kakungmu bilang, artinya rezeki dan hubungan baik itu terus menyambung, asal dirawat. Satu bintang rusak, jaringnya tetap jalan. Tapi kalau tidak ada yang merawat, lama-lama bolong semua."

"Kenapa Bu Lestari pilih motif ini?"

Pak Harjo terdiam sebentar. "Itu ceritanya panjang. Nanti dia sendiri yang cerita."


Sore harinya, Sari duduk di teras dengan buku pesanan biru itu di pangkuan. Ia sudah membacanya berkali-kali sejak menemukannya. Halaman demi halaman berisi catatan rapi: nama pemesan, motif, ukuran, uang muka, tanggal selesai. Ada pesanan dari Solo, Surabaya, bahkan satu dari Belanda tahun 2004.

Lalu, mulai tiga tahun lalu, catatannya berubah. Pesanan berkurang. Di samping beberapa nama, ayahnya menulis kecil-kecil: batal, pilih printing. Atau: minta harga turun, tidak bisa. Di halaman yang lain, ada daftar pengeluaran: harga mori naik, harga malam naik, upah pembatik naik.

Dan di halaman-halaman terakhir, ada sesuatu yang membuat Sari menutup buku itu dengan cepat ketika Bimo lewat di depan teras: daftar pinjaman. Kecil-kecil, dari koperasi kampung, dari tetangga, dari Pak Wijaya.

"Bimo," panggil Sari.

Adiknya berhenti, menatap buku di tangan kakaknya, lalu duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa.

"Kamu tahu soal ini?"

"Aku yang antar Bapak ke koperasi." Bimo memijat keningnya. "Mbak, rumah ini sudah rugi tiga tahun. Bapak tidak mau naikkan harga karena takut pelanggan lari. Tidak mau pakai mesin karena katanya itu bukan batik. Tidak mau jualan online karena katanya batik tulis harus dipegang orangnya dulu. Aku sudah coba bantu, tapi setiap aku usul, Bapak bilang aku tidak mengerti."

"Pak Wijaya memberi pinjaman juga?"

"Itu sebabnya dia yakin Bapak akan jual." Bimo menatap jalan gang yang mulai gelap. "Dia orang baik, Mbak, sungguh. Dia tidak memaksa. Tapi dia pengusaha. Dia butuh tanah ini buat gudang."

Sari menatap adiknya. Selama ini ia mengira Bimo hanya ingin uang cepat. Sekarang ia melihat wajah yang lelah, wajah orang yang sudah terlalu lama memikul sesuatu sendirian.

"Kenapa tidak bilang ke aku?"

"Mbak di Jakarta." Bimo tersenyum pahit. "Mbak selalu di Jakarta."


Malam itu Sari menelepon kantornya di Jakarta. Ia minta cuti tambahan. Atasannya, seorang perempuan yang selama tujuh tahun selalu memberinya tenggat paling ketat, terdiam lama di ujung telepon.

"Berapa lama?" tanyanya akhirnya.

"Enam minggu lagi."

"Kamu tahu itu artinya apa, kan, Sar? Posisi redaktur pelaksana yang kita bicarakan bulan lalu tidak bisa menunggu."

"Saya tahu."

Hening lagi. Lalu, "Ayahmu membatik?"

"Iya."

"Ibuku juga dulu." Suara atasannya melunak. "Di Lasem. Rumahnya sekarang jadi toko pulsa." Jeda. "Enam minggu. Kirim kabar. Dan kalau nanti kamu memutuskan tidak kembali, bilang langsung, jangan menghilang."

Sari menutup telepon dan duduk lama di kamar lamanya.

Tujuh tahun ia membangun hidup di Jakarta: kamar kos di Tebet yang jendelanya menghadap tembok, teman-teman kantor yang makan siang bersama setiap hari, jadwal tenggat yang membuat akhir pekannya selalu terpotong. Ia tidak membenci hidup itu. Ia hanya tidak pernah bertanya apakah hidup itu miliknya, atau sekadar tempat yang ia pilih karena tidak mau berada di sini. Di dinding masih tertempel poster grup musik yang dulu ia sukai waktu SMA, warnanya sudah pudar. Di meja belajar, ada tumpukan buku kuliahnya yang tidak pernah ia bawa ke Jakarta.

Ia keluar ke ruang tengah. Lampu masih menyala. Di depan gawangan besar, seseorang duduk di dingklik yang biasa ia pakai, punggungnya membungkuk, tangannya memegang canting dengan canggung.

Bimo.

Di depannya, di potongan kain latihan yang dijepit di gawangan kecil, ada sebuah garis lurus. Bengkok di tengah, terputus di ujung, dengan satu tetes malam bulat di sebelahnya.

Sari berdiri diam di ambang pintu, memperhatikan adiknya dari belakang. Bahu Bimo tegang, sikunya terangkat terlalu tinggi, persis seperti dirinya sendiri dua minggu lalu. Di lantai, di sebelah dingklik, ada tiga potong kain latihan lain yang sudah penuh garis bengkok. Bimo pasti sudah berlatih sejak lama, diam-diam, setiap malam setelah semua orang tidur.

Bimo menoleh, kaget, seperti anak kecil yang tertangkap mencuri gula.

"Jangan bilang Bapak," katanya.

Sari duduk di lantai di sebelahnya. "Tarik napas sebelum mencelup," katanya pelan. "Tahan waktu meniup ujungnya. Jangan lihat cantingnya. Lihat ke mana garisnya harus sampai."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Canting yang Tidak Pernah Kering”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Bisnis Online Modal Kecil

Memulai bisnis online tidak harus menunggu modal besar atau punya gudang sendiri. Yang dibutuhkan adalah produk yang tepat, hitungan harga yang benar, dan cara berjualan yang teruk...

Rp35.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu