🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Episode 1 dari 2

Kelontong Pak Jamal Buka 24 Jam

Kelontong Pak Jamal Buka 24 Jam · 25 Okt 2026 · 5 menit baca

Spanduk itu dicetak di percetakan dekat Pasar Bawah, berukuran dua meter, warna kuning menyala dengan huruf merah tebal: KELONTONG PAK JAMAL. BUKA 24 JAM.

Pak Jamal memasangnya sendiri, berdiri di atas kursi plastik yang goyang, sementara Bu Ida, istrinya, memegangi kursi sambil berkata, "Pak, kita ini toko kelontong, bukan rumah sakit."

"Minimarket di ujung jalan buka 24 jam," jawab Pak Jamal, mengikat tali spanduk ke tiang. "Kalau kita tidak, pelanggan lari semua."

"Pelanggan kita rata-rata umur enam puluh. Mereka tidur jam sembilan."

"Itu dulu. Sekarang zaman sudah berubah."


Malam pertama, Pak Jamal duduk di balik etalase dengan kopi hitam, radio kecil, dan semangat yang membara. Anaknya, Raffi, yang baru kelas tiga SMA, pura-pura belajar di ruang belakang sambil mengintip lewat celah pintu.

Pukul sepuluh, datang tiga pembeli. Seorang bapak membeli rokok, seorang ibu membeli telur, dan seorang anak kos membeli mi instan rasa soto.

Pukul sebelas, datang satu pembeli: tetangga yang membeli obat nyamuk bakar dan mengobrol empat puluh menit tentang harga pinang.

Pukul dua belas, tidak ada siapa-siapa. Hanya suara jangkrik, motor yang lewat sesekali, dan radio yang memutar lagu dangdut lama dengan suara pelan.

Pukul satu, Pak Jamal mulai mengangguk-angguk. Pukul satu lewat sepuluh, ia tertidur dengan kepala di atas etalase kaca, tepat di atas tumpukan permen jahe.


Pukul dua pagi, ia terbangun karena seseorang mengetuk kaca dengan koin.

Di depan etalase berdiri seorang laki-laki muda berseragam ojek daring, wajahnya kusut, helmnya masih dipakai setengah.

"Pak, ada popok bayi? Ukuran M?"

Pak Jamal mengusap mata. Ia menunjuk rak paling atas. Laki-laki itu mengambil sebungkus, lalu memandang rak di sebelahnya dengan bingung.

"Pak, susu formula yang tutupnya ungu itu yang untuk umur berapa?"

"Itu untuk satu sampai tiga tahun."

"Anak saya tiga bulan."

"Kalau begitu yang tutup hijau."

Laki-laki itu mengambil yang hijau, lalu berdiri diam di depan kasir. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. "Maaf, Pak. Istri saya di rumah sakit, anak saya rewel, mertua saya marah, saya belum makan dari siang."

Pak Jamal, yang tidak pernah tahu apa yang harus dilakukan kalau ada laki-laki dewasa menangis di depannya, melakukan satu-satunya hal yang ia tahu. Ia memanaskan air di termos, menyeduh mi instan rasa soto, dan menyodorkannya bersama sendok plastik.

"Makan dulu. Popoknya tidak akan lari."


Pukul tiga, datang dua satpam kompleks yang membeli kopi saset dan kacang. Mereka akhirnya duduk di bangku depan toko sampai subuh, bermain catur dengan Pak Jamal, dan kalah semua.

Pukul empat, datang seorang ibu penjual lontong sayur yang kehabisan santan. Ia membeli lima bungkus, lalu memberi Pak Jamal sebungkus lontong gratis sebagai tanda terima kasih.

Pukul lima, datang seorang mahasiswi yang membeli pulpen dan kertas folio. "Ujian jam tujuh, Pak. Pulpen saya hilang semua."

Pak Jamal menambahkan satu pulpen ekstra tanpa diminta. "Kalau pulpen pertama macet," katanya.


Pagi harinya, Bu Ida bangun dan menemukan suaminya tertidur di kursi plastik dengan mulut terbuka, di depan papan catur, dengan bungkus lontong yang sudah kosong di pangkuan.

"Berapa untungnya semalam?" tanyanya sambil menggoyang bahu suaminya.

Pak Jamal mengucek mata, membuka buku catatan penjualan, dan mulai menghitung. Rokok, telur, mi instan, obat nyamuk, popok, susu formula, kopi saset, kacang, santan, pulpen, kertas folio.

Totalnya empat puluh tiga ribu rupiah. Dikurangi mi instan dan pulpen yang ia berikan gratis, ditambah lontong yang ia terima gratis.

"Tiga puluh delapan ribu," katanya.

Bu Ida tertawa sampai harus duduk di lantai. "Begadang semalaman untuk tiga puluh delapan ribu! Listrik kipas sama lampu saja hampir segitu!"

Raffi keluar dari kamar, ikut tertawa. "Ayah, berarti tidak untung."

Pak Jamal memandang buku catatannya lama. Lalu ia tersenyum.

"Uangnya tidak untung," katanya. "Tapi ada bapak ojek yang anaknya dapat susu. Ada mahasiswi yang ujiannya pakai pulpen dari sini. Ada dua satpam yang sekarang langganan kopi." Ia menunjuk bungkus lontong di pangkuannya. "Dan aku dapat sarapan."

Bu Ida berhenti tertawa. Ia duduk di sebelah suaminya. "Pak, tidak bisa tiap malam begini. Badanmu bukan badan anak muda."

"Iya, aku tahu."

Sorenya, Raffi duduk di sebelah ayahnya di bangku depan toko. Ia membuka buku catatan penjualan dan mulai menghitung sesuatu dengan kalkulator di ponselnya.

"Yah, aku hitung, ya. Kalau buka sampai jam sebelas saja, listrik lebih hemat, Ayah tidak sakit, dan pembeli yang datang lewat jam sebelas rata-rata cuma beli barang darurat."

"Terus?"

"Terus barang darurat itu bisa kita taruh di rak dekat pintu samping. Popok, obat, susu bayi, lilin, air mineral. Kalau ada yang ketuk, Ayah tinggal ambil, tidak usah buka toko semuanya."

Pak Jamal memandang anaknya dengan wajah orang yang baru menemukan harta karun di bawah kasur. "Kau ini belajar dari mana?"

"Dari Ayah yang tertidur di atas permen jahe," jawab Raffi.


Siang itu, Pak Jamal naik lagi ke kursi plastik yang goyang. Bu Ida memegangi kursinya. Raffi memegang spidol hitam besar.

Mereka tidak menurunkan spanduk. Mereka hanya mencoret sedikit dan menambahkan tulisan kecil di bawahnya dengan spidol.

KELONTONG PAK JAMAL. BUKA 24 JAM.

(Ralat: bukan 24 jam. Buka sampai jam 11 malam.)

Darurat (popok, obat, susu bayi): ketuk pintu samping.

Para tetangga yang lewat tertawa membacanya. Satpam kompleks memotretnya dan mengunggahnya ke grup warga dengan keterangan: Toko paling jujur se-Pekanbaru.

Minggu itu, penjualan toko Pak Jamal naik. Bukan karena buka 24 jam, tapi karena semua orang ingin melihat spanduk yang dicoret itu, lalu sekalian belanja.

Dan pintu samping, sesekali, masih diketuk pukul dua pagi. Pak Jamal selalu membukanya. Untuk itu, ia tidak pernah mencatat untung di buku.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Pembukuan & Pajak UMKM Sederhana

Warung ramai, tetapi akhir bulan uangnya seperti menguap? Biasanya bukan karena usahamu rugi, melainkan karena uang usaha dan pribadi bercampur, pengeluaran kecil tidak tercatat, d...

Rp35.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu