🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Selisih Rp91.000

Koperasi Lantai Dua · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Bu Rum tidak berteriak. Itu yang membuat semuanya terasa lebih buruk.

"Saya berjualan di sekolah ini dua puluh tiga tahun," katanya, berdiri di depan meja koperasi dengan napas yang belum teratur. "Sejak SMK ini masih bernama STM. Saya menyekolahkan dua anak saya dari kantin itu. Satu sekarang perawat, satu masih kuliah."

"Bu, kami tidak bermaksud..." Fajar mulai bicara.

"Pagi ini saya buat tujuh puluh gelas es teh," lanjut Bu Rum. "Terjual dua puluh. Sisanya basi siang ini. Kalian tahu itu berapa?"

Nisa tahu. Ia bahkan menghitungnya otomatis dalam kepala. Lima puluh gelas yang tidak laku, dengan modal sekitar seribu lima ratus per gelas, berarti tujuh puluh lima ribu rupiah hilang. Belum termasuk tenaga Bu Rum yang bangun subuh.

"Kami minta maaf, Bu," kata Nisa pelan.

Bu Rum memandangnya lama, lalu berbalik dan turun tangga tanpa berkata apa-apa lagi.

Rapat OSIS sore itu panas. Separuh pengurus berpendapat mereka tidak salah. "Sekolah mengizinkan," kata seorang siswa jurusan Multimedia. "Ini persaingan biasa. Kalau Bu Rum mau laku, pindah saja ke lantai dua."

"Bu Rum tidak bisa naik turun tangga setiap hari," bantah Yoga. "Lututnya sakit. Saya sering bantu angkat galon di kantin."

Fajar mengusap wajah. "Jadi kita berhenti? Pentas batal?"

Nisa tidak menjawab. Ia sibuk dengan buku kas koperasi, karena ada sesuatu yang mengganggunya sejak siang. Ia menghitung ulang uang di kotak kas. Lalu menghitung ulang catatan penjualan. Lalu menghitung sekali lagi.

"Ada masalah lain," katanya akhirnya.

Semua menoleh.

"Uang di kotak kas kurang sembilan puluh satu ribu dari catatan penjualan."

Ruangan mendadak sunyi. Semua mata, tanpa sadar, beralih ke tiga orang yang tadi menjaga lapak: Nisa, Fajar, dan Yoga.

"Kamu yakin hitunganmu benar?" tanya Fajar.

"Saya hitung empat kali."

"Mungkin ada yang tidak bayar," kata seseorang. "Waktu antre ramai tadi, siapa pun bisa ambil roti dan pergi."

"Atau ada yang salah kasih kembalian," kata yang lain.

"Atau ada yang ambil," kata siswa jurusan Multimedia tadi, dan langsung menyesal karena Yoga berdiri dengan wajah merah.

Pak Yanto menghentikan perdebatan sebelum menjadi pertengkaran. "Tidak ada yang menuduh siapa-siapa sampai ada bukti. Nisa, besok kamu buat sistem pencatatan yang lebih rapi. Fajar, bicara dengan Bu Rum. Tidak bisa begini terus."

Malam itu Nisa tidak bisa tidur. Ia memikirkan wajah Bu Rum yang merah di ujung tangga, dan wajah Yoga yang lebih merah lagi saat seseorang menyebut kata "ambil". Yoga yang setiap pagi mengangkat galon untuk Bu Rum tanpa diminta. Yoga yang membawa enam puluh roti hangat ke sekolah dengan motor bebek ayahnya. Kalau ada yang salah, Nisa yakin kesalahannya bukan di tangan Yoga, tapi di buku catatannya sendiri. Ia membuka buku catatannya dan memeriksa setiap baris. Penjualan es teh: empat puluh dua gelas, Rp126.000. Roti: enam puluh potong, Rp240.000. Alat tulis: belum ada. Total seharusnya Rp366.000. Uang di kotak: Rp275.000.

Sembilan puluh satu ribu. Angka itu aneh. Kalau ada yang tidak membayar es teh, selisihnya kelipatan tiga ribu. Kalau roti, kelipatan empat ribu. Sembilan puluh satu bukan kelipatan tiga ribu, juga bukan empat ribu.

Ia mencoba kombinasi. Lima belas es teh dan sepuluh roti? Itu delapan puluh lima. Tujuh belas es teh dan sepuluh roti? Sembilan puluh satu. Tapi tidak mungkin sebanyak itu orang pergi tanpa membayar di depan matanya. Lalu ia teringat sesuatu. Uang kembalian. Pagi tadi, ibunya memberinya modal kembalian dalam pecahan kecil, dan Nisa mencatatnya di halaman depan.

Ia membalik halaman. Modal kembalian: Rp100.000. Dalam kotak, sebelum penjualan dimulai.

Nisa memandangi angka itu, lalu tertawa sendiri sampai ibunya terbangun.

Uang di kotak seharusnya Rp366.000 dari penjualan ditambah Rp100.000 modal kembalian, yaitu Rp466.000. Tapi ia menghitung kotak dan mendapat Rp275.000, dan kemudian, karena panik, ia lupa menghitung amplop kedua: amplop cokelat tempat Yoga menyisihkan uang pecahan besar agar kotak tidak terlalu penuh. Amplop itu masih ada di tas Nisa, belum dibuka.

Ia membukanya. Rp200.000. Ditambah Rp275.000, totalnya Rp475.000. Kelebihan sembilan ribu dari yang seharusnya.

"Kelebihan?" gumamnya. Lalu ia ingat lagi: seorang guru tadi membayar dua es teh dengan uang lima belas ribu dan bilang, "Kembaliannya untuk pentas seni." Nisa lupa mencatatnya sebagai sumbangan.

Tidak ada yang mencuri. Tidak ada yang salah. Hanya catatan yang berantakan dan seorang bendahara yang panik.

Pukul enam pagi, Nisa mengirim pesan ke grup pengurus OSIS dengan foto buku kas dan amplop cokelat, lengkap dengan penjelasan. Ia menutup dengan kalimat: "Mulai hari ini, semua uang masuk satu kotak, modal kembalian dicatat terpisah, dan setiap transaksi dicatat saat itu juga. Maaf sudah membuat semua orang curiga. Terutama Yoga."

Yoga membalas dengan stiker roti sobek yang tersenyum.

Sementara itu, Fajar datang ke kantin Bu Rum sebelum bel masuk. Ia menemukan perempuan itu sedang mengiris tempe di meja belakang, ditemani radio yang memutar lagu campursari.

"Bu Rum," kata Fajar. "Saya mau minta maaf, dan mau bertanya."

Bu Rum tidak menoleh. "Tanya apa?"

"Kalau Ibu jadi kami, apa yang Ibu lakukan?"

Pisau Bu Rum berhenti. Ia menoleh perlahan, memandang Fajar dengan mata yang sulit dibaca.

"Kamu sungguh-sungguh mau tahu?"

"Sungguh-sungguh, Bu."

Bu Rum meletakkan pisaunya, mengelap tangan di celemek, dan menarik dua kursi plastik.

"Duduk," katanya. "Panggil juga bendaharamu yang pakai kalkulator itu. Saya mau lihat hitungannya."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Hitung Modal & Harga Jual yang Untung

Ebook gratis untuk kamu yang sudah berjualan tetapi belum yakin sebenarnya untung atau tidak. Banyak usaha kecil laris tetapi rugi diam-diam karena harga ditentukan dengan perkiraa...

Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu