Antrean di Beranda
Pada musim angin timur berikutnya, ada tujuh belas anak berbaris di depan rumah Ical.
Mereka datang sejak pagi, membawa kertas terlipat, amplop bekas undangan, dan satu kantong plastik berisi surat yang ditulis di balik kalender. Seorang anak perempuan berkepang membawa adiknya yang belum bisa menulis, dan adiknya membawa gambar kapal dengan krayon merah.
"Ini kenapa?" tanya Ibu, berdiri di pintu dengan sapu di tangan.
Ical, sepuluh tahun sekarang, menggaruk kepala. "Ical cuma cerita ke Andi, Bu."
"Andi cerita ke siapa?"
"Ke semua orang, kayaknya."
Cerita tentang layang-layang biru yang jatuh di kaki ayah Ical di dekat Banda sudah menyebar ke seluruh Paotere. Di pasar ikan, ibu-ibu membicarakannya sambil menawar cakalang. Di masjid, bapak-bapak membicarakannya setelah salat Jumat. Dan semua anak yang bapaknya pelaut, yang di Paotere jumlahnya tidak sedikit, ingin mengirim surat lewat angin timur.
Nenek Daeng Ngai memandangi antrean itu dari kursi rotannya di beranda, tidak berkata apa-apa, terus menganyam tikar.
Ical membuat layang-layang sepanjang minggu itu. Ibunya meraut bambu sampai jarinya lecet. Andi, sahabat Ical, ditugasi membeli kertas minyak di warung, dan karena warung kehabisan warna biru, separuh layang-layang itu berwarna merah muda.
"Bapakku tidak suka merah muda," protes seorang anak.
"Angin tidak peduli warna," kata Ical, dengan nada seperti Nenek.
Lalu Andi punya ide.
"Cal, kita bisa minta bayaran. Dua ribu satu layang-layang. Bambu dan kertas kan ada modalnya."
Ical berpikir. Masuk akal. Ibunya sudah lelah meraut. Dan dua ribu dikali tujuh belas itu tiga puluh empat ribu, cukup untuk membeli layang-layang aduan yang ia incar di toko dekat Pelabuhan Soekarno-Hatta.
Nenek berhenti menganyam ketika Ical memberitahunya. Ia tidak marah. Ia hanya menatap Ical dengan mata keruhnya yang tajam, lama sekali, sampai Ical menunduk.
"Angin bukan tukang pos, Cal," katanya.
"Tapi Nek, cuma buat ganti bambu..."
"Nenek tidak bilang tidak boleh." Nenek kembali menganyam. "Nenek cuma bilang angin bukan tukang pos."
Ical tidak mengerti. Jadi ia tetap meminta dua ribu.
Sabtu sore, angin timur bertiup kencang. Pantai dekat Paotere penuh anak-anak dan layang-layang warna-warni, ekornya penuh tulisan. Ical berlari dari satu anak ke anak lain, membantu menaikkan layang-layang, lalu memotong benangnya dengan gunting kecil pinjaman Nenek.
Satu per satu, layang-layang itu terbang ke barat daya.
Dan satu per satu, layang-layang itu jatuh.
Bukan jauh di tengah laut. Di dekat pantai. Ada yang jatuh di atas atap kapal pinisi yang bersandar. Ada yang tersangkut di tiang bendera dermaga. Yang merah muda milik anak berkepang jatuh tepat di air dangkal, dan adiknya menangis keras sekali sampai beberapa buruh pelabuhan menoleh.
Dari tujuh belas layang-layang, hanya dua yang menghilang di balik cahaya matahari. Lima belas lainnya basah, robek, atau tersangkut.
"Penipu!" teriak seorang anak laki-laki yang lebih besar dari Ical. Layang-layangnya sendiri tersangkut di tiang listrik. "Kembalikan dua ribuku!"
"Penipu layang!" sahut yang lain.
Andi sudah tidak terlihat di mana pun.
Ical pulang dengan saku berisi tiga puluh empat ribu rupiah yang terasa sangat berat. Ia menyerahkan semuanya kepada Ibu dan meminta Ibu mengembalikannya ke anak-anak itu, satu per satu, karena ia terlalu malu untuk melakukannya sendiri.
Malam itu, Ical duduk di beranda di samping kursi rotan Nenek.
"Nenek sudah tahu, ya?"
"Tahu apa?"
"Kalau semuanya bakal jatuh."
Nenek menganyam tiga baris tikar pandan sebelum menjawab. "Nenek tidak tahu. Nenek cuma tahu angin. Angin mau bawa surat yang sungguh-sungguh. Anak-anak itu menulis sungguh-sungguh, Cal. Nenek percaya. Tapi siapa yang menerbangkan?"
"Ical."
"Untuk apa?"
Ical terdiam. Untuk dua ribu. Untuk layang-layang aduan di toko dekat pelabuhan. Untuk didengar orang sepasar ikan.
"Surat yang sungguh-sungguh," kata Nenek, "harus diterbangkan oleh tangan yang sungguh-sungguh juga. Kalau tidak, anginnya bingung."
Tiga hari kemudian, ketika tidak ada lagi anak yang datang ke rumah dan teman sekelas masih memanggilnya penipu layang, seseorang mengetuk pintu menjelang magrib.
Bukan anak-anak. Seorang lelaki tua, kurus, berkulit legam, dengan kopiah yang warnanya sudah tidak jelas hitam atau cokelat. Ical mengenalnya. Daeng Baso, buruh angkut di Paotere yang sudah terlalu tua untuk mengangkut, sekarang lebih sering duduk di warung kopi memandangi kapal.
Ia tidak membawa uang. Ia membawa selembar foto hitam putih yang sudah melengkung ujungnya: seorang pemuda berseragam pelaut, tersenyum lebar, berdiri di depan sebuah kapal.
"Anakku," kata Daeng Baso. Suaranya parau. "Rudi. Pergi dua belas tahun lalu. Sekarang kerja di kapal, entah kapal apa. Tidak pernah pulang."
Ical memandangi foto itu. Lalu memandangi Nenek di kursi rotan. Nenek mengangguk sangat kecil.
"Daeng mau tulis surat?"
"Sudah kutulis." Daeng Baso mengeluarkan lipatan kertas dari saku bajunya. "Tapi aku tidak bisa bikin layang-layang. Tanganku sudah gemetar. Kau buatkan. Aku yang terbangkan."
Mereka menerbangkannya keesokan sore, berdua saja, di ujung pantai yang paling sepi. Layang-layangnya biru, karena Ical membeli kertas minyaknya di warung yang lebih jauh, dengan uang jajannya sendiri.
Daeng Baso berlari pelan-pelan di pasir, terbatuk-batuk, dan layang-layang itu naik. Ekornya panjang, penuh tulisan tangan yang miring-miring. Ical tidak membaca isinya. Ia sudah belajar.
Daeng Baso memotong benangnya sendiri dengan gunting kecil milik Nenek.
Layang-layang biru itu terbang ke barat daya. Lima meter. Sepuluh. Dua puluh. Lalu, seperti ditampar tangan yang tidak kelihatan, ia berputar, oleng, dan jatuh lurus ke laut, tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Ical berlari ke air, tapi ombak sudah menelannya.
"Daeng, maaf, mungkin kerangkanya..."
"Bukan kerangkanya, Nak."
Daeng Baso berdiri diam di tepi air, memandangi tempat layang-layang itu tenggelam. Wajahnya tidak terkejut. Wajahnya seperti orang yang sudah menunggu hal ini sejak lama.
"Aku sudah tahu dia akan menolak," katanya pelan. "Karena ada yang tidak kutulis."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!