🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Mosi Diterima
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Toko Kelontong di Jalan Tanjungpura

Mosi Diterima · 26 Okt 2026 · 5 menit baca

Keesokan harinya, kursi Mei Lin di ruang bahasa kosong.

Bu Sekar mendengarkan cerita Rahmat tanpa menyela. Saat Rahmat selesai, ia mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. "Saya bisa menelepon orang tuanya sebagai guru pembina. Tapi kalau saya yang datang, mamanya akan merasa ditekan. Dan Mei Lin yang akan menanggung akibatnya di rumah."

"Jadi kita cari pengganti?" tanya Gus.

Rahmat menggeleng keras. "Tidak. Dia yang paling pintar di antara kita."

"Pendaftaran ditutup lusa," kata Bu Sekar pelan. "Saya beri kalian waktu sampai besok. Setelah itu, saya harus mencari orang ketiga."

Sore itu, Rahmat dan Gus berdiri di seberang toko kelontong di Jalan Tanjungpura. Tokonya sempit dan memanjang ke dalam, raknya penuh mi instan, kecap, karung beras, dan toples kerupuk. Di balik etalase kaca, Mei Lin duduk di depan mesin kasir dengan buku tugas terbuka. Seorang perempuan paruh baya berkacamata, pasti mamanya, sedang menata kardus air mineral.

"Kita masuk sebagai pembeli dulu," usul Gus. "Beli sesuatu."

"Beli apa?"

"Apa saja. Sabun. Orang tidak bisa marah kepada orang yang membeli sabun."

Mereka masuk. Mei Lin mengangkat kepala, dan wajahnya langsung tegang. Ia menggeleng sangat kecil, memberi isyarat agar mereka pergi.

Mama Mei Lin menoleh. "Cari apa, Dek?"

"Sabun, Tante," jawab Gus terlalu cepat. "Sabun mandi. Dua. Eh, tiga."

Mamanya mengambilkan sabun dari rak. Saat membayar, Rahmat memberanikan diri.

"Tante, saya Rahmat, teman sekolah Mei Lin. Yang punya warung kopi di dekat Gajah Mada."

Tangan Mama Mei Lin berhenti di atas mesin kasir. Tatapannya berubah. "Oh. Jadi kamu."

"Kami minta maaf, Tante. Kemarin kami latihan di warung bapak saya. Bukan main-main. Itu latihan lomba debat bahasa Inggris. Ada guru kami juga."

"Mei Lin tidak bilang apa-apa soal lomba," kata mamanya dingin. "Dia bilang kerja kelompok."

"Itu salah saya, Ma," kata Mei Lin pelan dari balik kasir. "Saya takut Mama tidak izinkan."

"Tentu tidak Mama izinkan. Sore-sore kamu harus jaga toko. Siapa yang jaga kalau kamu pergi? Mama harus antar barang. Papa di Singkawang sampai akhir bulan."

Sebelum ada yang sempat menjawab, terdengar suara dari dalam toko, dari kursi rotan di dekat tangga. Seorang nenek berambut putih sedang mengupas kacang tanah. Ia mengatakan sesuatu dalam bahasa Tiochiu, pendek dan tegas.

Mama Mei Lin menjawab dengan nada sedikit kesal. Nenek itu berbicara lagi, lebih panjang. Mei Lin menunduk, tapi Rahmat melihat sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Itu Ama," bisik Mei Lin. "Nenek saya."

Ama bangkit perlahan dan berjalan ke depan. Tingginya hanya sebahu Rahmat. Ia menatap Rahmat dan Gus dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat yang kental.

"Kalian yang mau bawa Mei Lin lomba bicara?"

"Iya, Ama," jawab Rahmat.

"Lomba bicara apa?"

"Debat, Ama. Bahasa Inggris. Dua tim berdebat tentang satu topik, lalu juri menilai siapa yang alasannya lebih kuat."

Ama mengangguk lambat. "Waktu Ama muda, Ama berdagang di Pasar Kapuas Indah. Kalau tidak bisa bicara, barang tidak laku. Kalau tidak bisa tawar, kita yang rugi." Ia menunjuk Mei Lin dengan dagunya. "Cucu Ama ini pintar, tapi kalau ada tamu, dia lari ke belakang. Toko ini nanti siapa yang bicara?"

Mama Mei Lin membuka mulut, tapi Ama mengangkat tangan.

"Ama yang jaga toko sore," kata Ama. "Ama masih kuat duduk. Ama masih bisa hitung uang. Kamu antar barang, Mama Mei Lin. Mei Lin pergi latihan."

"Ma, kaki Mama..."

"Kaki Ama tidak dipakai buat hitung uang," jawab Ama, dan Gus terbatuk menahan tawa.

Hening sebentar. Mama Mei Lin memandang anaknya, lalu ibunya, lalu dua anak laki-laki di depan kasir yang memegang tiga batang sabun.

"Ada syaratnya," katanya akhirnya. "Latihan selesai jam enam. Tidak lewat. Nilai sekolah tidak boleh turun. Dan Mama mau bicara dengan gurunya."

"Bu Sekar pasti mau, Tante," kata Rahmat cepat.

"Satu lagi." Mama Mei Lin menatap Rahmat dengan mata menyipit. "Warung kopi bapakmu. Ada yang merokok?"

"Tidak di dalam, Tante. Saya janji."

Mama Mei Lin menghela napas panjang, lalu mengembalikan uang kembalian sabun. "Ya sudah. Pulang sana, sebelum Mama berubah pikiran."

Di luar toko, Gus melompat kecil dan menepuk punggung Rahmat. "Kita berhasil! Berkat sabun!"

"Berkat Ama," kata Rahmat. Ia menoleh ke dalam toko. Mei Lin sedang berbicara dengan neneknya, lalu tiba-tiba memeluk nenek kecil itu dari samping. Ama menepuk-nepuk tangan cucunya sambil terus mengupas kacang.

Malam itu Bu Sekar menelepon Mama Mei Lin. Percakapannya lama, dan Rahmat tidak tahu isinya, tapi keesokan paginya Bu Sekar menyerahkan formulir pendaftaran yang sudah ditandatangani orang tua. Nama ketiga di formulir itu tertulis rapi: Mei Lin Tjahjadi.

Latihan dua minggu berikutnya berjalan lebih teratur. Mei Lin masih bicara menghadap jendela, tapi jarak antara jendela dan juri khayalan mereka semakin dekat. Gus belajar menyimpulkan di akhir setiap argumen. Rahmat belajar menulis bukti di kartu kecil dan berhenti bicara secepat motor di jalan raya.

Pada sore terakhir sebelum lomba, Bu Sekar membagikan selembar kertas berisi aturan babak penyisihan.

"Besok ada tiga babak," katanya. "Mosi diumumkan tiga puluh menit sebelum setiap babak. Di ruang persiapan, kalian tidak boleh membuka ponsel atau internet. Hanya kertas, pulpen, dan kepala kalian."

Gus menelan ludah. "Tiga puluh menit untuk topik yang belum kita tahu?"

"Itulah debat," kata Bu Sekar. "Dan satu hal lagi." Ia menyerahkan selembar kertas jadwal. "Undian sudah keluar. Babak pertama, kalian melawan SMA Cahaya Bangsa."

Rahmat merasa perutnya turun ke lutut. Di daftar nama tim lawan, tertulis nama yang sudah sering ia dengar sejak audisi.

Kevin Pradipta. Kapten. Juara bertahan.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Mosi Diterima”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Bahasa Inggris untuk Kerja & Wawancara

Banyak orang bisa membaca bahasa Inggris, tetapi kaku saat harus memperkenalkan diri di wawancara, menulis email ke atasan, atau menyela di rapat online. Yang kurang biasanya bukan...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu