Pasal Revisi
Rapat kecil itu berlangsung di meja kasir, ditemani tiga gelas teh yang mendingin pelan-pelan.
"Toko ini punya Ibu," kata Mira, karena Raka jelas tidak akan memulai. "Ibu yang buka tahun 1989. Namanya Kenanga. Sejak dua tahun lalu Ibu mulai sering lupa. Dokter bilang demensia tahap awal. Biaya perawatannya tidak sedikit, Mbak. Om Hendra, adik Bapak, yang sekarang ikut menanggung. Om bilang toko ini rugi, tempatnya strategis, dan ada jaringan kafe yang mau beli bangunannya. Akhir bulan ini keputusan diambil di rapat keluarga."
"Toko ini tidak rugi," kata Raka.
"Tidak untung juga, Mas."
"Belum."
Mira menoleh ke Dinda dengan wajah orang yang sudah ratusan kali kalah dalam perdebatan yang sama. "Mas Raka minta waktu. Om kasih syarat: tunjukkan rencana yang masuk akal. Logo baru, jualan online, angka penjualan yang naik. Kalau Sabtu depan rencananya meyakinkan, keputusan ditunda tiga bulan."
Dinda memandang Raka. Laki-laki itu sedang menatap tehnya seperti jawabannya ada di dasar gelas.
"Jadi 'proposal' di brief itu..."
"Proposal ke keluarga sendiri," kata Raka. "Konyol, kan?"
"Tidak konyol," kata Dinda. Ia sendiri terkejut mendengar suaranya yang tegas. "Itu masuk akal. Tapi Mas harus bilang dari awal. Brief yang jujur bikin desain yang tepat."
Raka mengangkat wajah. "Kalau saya bilang dari awal, Mbak akan kasihan. Saya tidak mau logonya dibuat karena kasihan."
Dinda tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia minum tehnya yang sudah dingin.
Mira melirik jam tangannya, lalu berdiri dan memasukkan map plastik ke tas. "Aku harus ke kantor. Mbak Dinda, maaf ya, keluarga kami memang begini. Rapat pakai teh, tidak pernah selesai, dan selalu ada yang ngambek di dapur."
"Tidak ada yang ngambek," kata Raka.
"Mas sudah ngambek sejak 2019," jawab Mira sambil membuka pintu. Lonceng kecil di atasnya berbunyi. "Jangan lupa makan, Mas."
Pintu tertutup. Toko kembali sunyi, hanya ada dengung kulkas minuman dan detak jam yang terlambat sepuluh menit.
"Adik saya," kata Raka, seolah itu menjelaskan semuanya.
"Dia sayang sama Mas," kata Dinda.
Raka tidak menjawab. Ia mengambil gelas teh Mira yang hampir penuh, lalu menuangnya ke wastafel di belakang etalase dengan gerakan yang terlalu hati-hati, seperti orang yang sedang berusaha tidak memikirkan apa-apa.
Revisi pertama ia kirim Jumat siang. Opsi kedua, warna nomor 14, huruf yang ia buat sedikit lebih rendah hati: sudut-sudutnya dibulatkan, tebalnya dikurangi.
Raka membalas pukul 21.00, jam yang menurut Tia sudah larut untuk ukuran tukang roti.
"Lebih baik. Tapi bisa ditambah sesuatu yang menunjukkan ini toko lama? Tanpa terlihat kuno."
Revisi kedua ia kirim Sabtu sore. Ia menambahkan tulisan kecil sejak 1989 di bawah logo, huruf kapital berjarak lebar.
Raka membalas Minggu subuh.
"Bagus. Tapi tahunnya terlalu kecil. Tapi kalau dibesarkan jadi seperti iklan. Bisa coba versi yang tahunnya di samping? Dan satu versi tanpa tahun? Dan satu versi yang hurufnya agak miring sedikit seperti tulisan tangan? Sedikit saja."
Dinda membaca pesan itu sambil duduk di lantai kamar kosnya. Tiga permintaan baru. Dan itu sudah melewati dua kali revisi yang tertulis di penawarannya.
Ia menelepon Tia.
"Klien roti?" tanya Tia sebelum Dinda sempat bicara.
"Revisi ketiga. Tiga versi sekaligus."
"Kontraknya bilang berapa?"
"Dua."
"Terus?"
"Terus dia lagi berusaha menyelamatkan toko ibunya yang sakit, Tia."
Tia diam sebentar. Ketika bicara lagi, suaranya lebih lembut, tetapi tetap tegas. "Din, aku ngerti. Tapi kamu juga harus bayar kos. Kamu ingat proyek undangan pernikahan tahun lalu? Revisi sebelas kali, gratis semua, karena kamu kasihan sama pengantinnya. Tiga minggu kerjamu dibayar sama dengan tiga hari."
Dinda ingat. Ia ingat menangis di depan laptop pukul empat pagi karena huruf nama mempelai pria harus diganti untuk kedelapan kalinya.
"Pasal revisi itu bukan buat menghukum klien," lanjut Tia. "Itu buat melindungi kalian berdua. Klien jadi tahu tiap permintaan ada nilainya, jadi dia berpikir sebelum minta. Kamu jadi bisa terus kerja dengan senang hati, bukan dengan dendam."
Dinda menatap langit-langit. Lalu ia membuka laptop dan menulis pesan dengan hati-hati, seperti menyusun kue berlapis.
"Mas Raka, terima kasih masukannya. Sesuai penawaran di awal, paket logo sudah termasuk dua kali revisi, dan keduanya sudah terpakai. Untuk tiga versi tambahan ini, ada biaya revisi Rp150.000 per putaran. Kalau Mas setuju, saya kerjakan hari ini dan kirim besok pagi. Kalau ingin menghemat, Mas juga bisa pilih satu dari tiga versi dulu."
Ia menekan kirim, lalu menutup laptop seperti menutup pintu oven, takut melihat hasilnya terlalu cepat.
Lima belas menit kemudian ponselnya bergetar.
Bukti transfer. Rp150.000.
Di bawahnya:
"Maaf, saya tidak sadar sudah lewat jatahnya. Terima kasih sudah bilang. Kerjakan tiga-tiganya. Saya akan berhenti minta setelah ini. Mungkin."
Dinda tertawa keras sampai Bolu terbangun. Mungkin.
Satu pesan lagi masuk.
"Mbak Dinda, boleh saya tanya satu hal yang tidak ada di brief?"
"Boleh."
"Mbak suka roti apa?"
Dinda menatap pertanyaan itu lama. Itu bukan pertanyaan klien kepada desainer. Itu juga belum pertanyaan laki-laki kepada perempuan. Itu ada di tengah-tengah, di wilayah abu-abu yang membuat jantung berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan resmi.
"Roti sobek," ketiknya. "Yang jam lima pagi."
Centang dua. Biru. Lalu:
"Saya sisihkan satu setiap hari. Kalau Mbak lewat, ambil saja."
Senin pagi, Dinda mengirim tiga versi revisi ketiga, tepat waktu. Ia merasa lebih ringan dari biasanya. Bukan karena pekerjaannya selesai, tetapi karena untuk pertama kalinya ia mengatakan batasnya dengan jelas dan dunia tidak runtuh.
Siang harinya, nomor tak dikenal mengirim pesan.
"Mbak Dinda, ini Mira. Maaf ambil nomor dari ponsel Mas Raka. Boleh ketemu berdua? Ada yang perlu Mbak tahu sebelum Sabtu, dan Mas Raka tidak akan pernah cerita sendiri."
Dinda menatap layar. Di sebelahnya, Bolu menguap lebar, seolah tahu bahwa urusan ini baru saja menjadi jauh lebih rumit dari sekadar memilih huruf.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!