Pesan yang Salah Kirim
Mira mengajak bertemu di warung soto dekat kantornya di Jalan Mangkubumi, pukul dua belas lewat sedikit, jam ketika semua orang kantoran berebut kursi plastik.
"Aku cuma punya waktu empat puluh menit," kata Mira sambil memeras jeruk nipis ke sotonya. "Jadi langsung saja. Mas Raka tidak cerita soal gambar di papan nama itu, kan?"
"Dia minta saya jangan tanya."
"Tentu saja." Mira tersenyum miring. "Gambar bunga di papan itu digambar Ibu sendiri, tahun 1989, waktu toko baru buka. Bapak yang bikin papan kayunya. Logo itu dipakai di semua kantong kertas sampai dua tahun lalu."
"Kenapa berhenti?"
Mira mengaduk sotonya pelan. "Waktu Ibu mulai sering lupa, suatu pagi Ibu turun, lihat papan itu, dan tanya ke Mas Raka, 'Ini toko siapa?' Mas Raka langsung ganti semua kantong kertas jadi polos minggu itu juga. Foto Ibu di dinding ditutup kain. Katanya biar Ibu tidak bingung. Tapi menurutku..." Ia berhenti. "Menurutku biar Mas Raka sendiri tidak sedih."
Dinda teringat cara Raka menunjuk papan itu, cepat seperti menyentuh sesuatu yang panas.
"Jadi dia minta logo yang modern," kata Dinda pelan, "supaya tidak perlu melihat gambar ibunya setiap hari."
"Dan dia minta papannya disimpan karena tidak sanggup membuangnya." Mira meletakkan sendoknya. "Mbak, aku tidak minta Mbak mengubah desain. Itu urusan kalian. Aku cuma mau Mbak tahu, supaya kalau Mas Raka tiba-tiba aneh, Mbak tidak tersinggung. Dia bukan rewel karena sombong. Dia rewel karena takut."
Mira melirik jam, lalu berdiri dan membayar dua mangkuk soto sebelum Dinda sempat mengeluarkan dompet.
"Anggap saja uang muka," katanya sambil tersenyum. "Untuk kesabaran Mbak menghadapi kakakku."
Dinda pulang dengan perasaan aneh di dadanya. Ia tidak lagi melihat Raka sebagai klien yang revisinya datang pukul dua pagi. Ia melihat seorang laki-laki yang setiap subuh membuat roti di bawah foto ibunya yang ditutup kain.
Malam itu, Dinda menelepon Tia, tetapi Tia sedang di bioskop. Jadi Dinda melakukan hal yang biasa ia lakukan ketika pikirannya terlalu penuh: ia menulis pesan panjang ke Tia untuk dibaca nanti.
Ia mengetik dengan cepat, jari-jarinya mendahului akal sehat.
"Tia, klien roti ini bikin aku pusing. Briefnya kontradiktif, revisinya jam dua pagi, dan ternyata semua itu karena ibunya. Aku jadi nggak tega. Dan masalahnya lagi: senyumnya curang. Dia jarang senyum, tapi sekali senyum, aku lupa mau marah soal revisi. Ini tidak profesional sama sekali. Tolong ingatkan aku untuk kirim invoice dengan wajah datar."
Ia menekan kirim, menaruh ponsel, mengambil gelas air, lalu kembali dan melihat layar.
Nama di bagian atas percakapan itu bukan Tia (Teman Bertahan Hidup).
Nama di bagian atas percakapan itu Raka - Roti Kenanga.
Dinda menjatuhkan gelasnya. Untung gelas plastik. Bolu melompat ke atas lemari.
Centang dua. Abu-abu.
Ia menekan lama pesan itu. Hapus untuk semua orang. Jarinya gemetar. Ia menekan.
Pesan ini telah dihapus.
Dinda duduk di lantai, napasnya pendek-pendek. Masih abu-abu. Raka belum membaca. Raka tukang roti. Raka tidur jam delapan. Sekarang pukul 21.40. Raka pasti sudah tidur. Pesan itu sudah dihapus. Tidak ada yang terjadi. Dunia baik-baik saja.
Centang dua berubah biru.
Dinda menatap layar dengan ngeri. Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
"Mbak Dinda, tadi kirim pesan lalu dihapus. Ada yang salah dengan revisinya?"
Dinda menutup wajah dengan kedua tangan. Lalu ia membuka sela jari, membaca lagi. Ia belum sempat membacanya. Pesan dihapus sebelum ia membuka. Berarti ia hanya melihat notifikasi. Notifikasi menampilkan awal pesan. Awal pesan berbunyi...
Tia, klien roti ini bikin aku pusing.
"Tidak ada yang salah, Mas," ketik Dinda secepat kilat. "Salah kirim. Untuk teman."
Tiga titik. Lama sekali.
"Oh. Klien roti yang bikin pusing itu saya, ya?"
Dinda ingin pindah kota.
"Maaf, Mas. Itu cuma curhat biasa ke teman. Bukan maksud jelek."
Tiga titik lagi. Kali ini lebih lama.
"Tidak apa-apa. Saya memang bikin pusing. Mira juga bilang begitu. Ibu juga dulu."
Lalu, satu pesan lagi:
"Notifikasinya cuma kelihatan sampai 'bikin aku pusing. Briefnya kontradiktif, revisinya jam dua pagi, dan ternyata'. Ternyata apa?"
Dinda menatap pertanyaan itu. Ia bisa berbohong. Ia bisa bilang ternyata klien lain juga sama. Tetapi Dinda tidak pandai berbohong, dan ia sudah lelah menjadi profesional malam ini.
"Ternyata semuanya karena Ibu Mas," ketiknya. "Mira cerita tadi siang. Maaf, saya tidak bermaksud ikut campur."
Kali ini tidak ada tiga titik. Centang biru, lalu sunyi lima menit penuh. Dinda yakin ia baru saja kehilangan klien dan sisa pembayaran Rp1.250.000.
Lalu:
"Besok bisa datang jam lima? Bukan untuk revisi. Ada yang mau saya tunjukkan."
Subuh berikutnya, toko itu terasa berbeda. Lampunya sama, bau mentega sama, kursi rotan sama berderitnya. Tetapi kain putih di bingkai foto sudah dibuka.
Perempuan di foto itu tersenyum lebar, memegang papan nama kayu yang catnya masih segar. Bunga kecil berkelopak lima di papan itu terlihat jelas sekarang, digambar dengan tangan yang tidak terlalu rapi tetapi sangat yakin.
"Itu Ibu," kata Raka. Ia berdiri di sebelah Dinda, celemeknya bersih untuk pertama kali. "Waktu masih ingat semuanya."
Dari tangga terdengar langkah pelan. Seorang perempuan tua turun, berpegangan pada pegangan tangga, memakai daster bunga dan kardigan rajut. Wajahnya lembut, matanya mencari-cari.
"Raka? Rotinya sudah keluar? Ibu cium baunya."
"Sudah, Bu. Ini ada tamu."
Bu Kenanga menatap Dinda lama sekali. Lalu ia tersenyum, senyum yang sama persis dengan perempuan di foto.
"Oh, kamu anak baru yang bantu menggambar, ya?" katanya. "Gambar bunganya jangan lupa. Lima kelopak. Satu untuk tiap hari kerja. Sabtu dan Minggu tokonya istirahat."
Raka memalingkan wajah ke arah dapur. Dinda melihat rahangnya mengeras, menahan sesuatu.
Dinda menggenggam tangan Bu Kenanga yang hangat dan sedikit berbau tepung.
"Iya, Bu," katanya. "Saya tidak akan lupa."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!