Hanum, konservator naskah di Kotagede, pulang ke Jombang untuk tahlilan empat puluh hari Mbah Lan, penjual wedang jahe di depan pesantren yang dulu diam-diam mengantarkan doa para santri putra dan putri. Dalam surat wasiatnya, Mbah Lan mewakafkan tanahnya untuk sebuah madrasah kecil dan menunjuk orang-orang yang harus mengurusnya. Salah satunya Hanum, yang dua bulan lagi akan menikah dengan seorang dosen yang sangat baik. Satu lagi Nadhif, muazin Subuh hari Kamis yang tiga belas tahun lalu ia doakan diam-diam, dan yang tidak pernah datang.
Seorang ahli waris ingin tanah itu dijual sebelum akhir November. Nadhif akan berangkat kerja ke Jepang empat hari sebelum akad Hanum. Dan di antara barang-barang warung, mereka menemukan buku titipan Mbah Lan yang basah dan membatu, yang halaman-halamannya hanya bisa dibuka satu per satu. Di salah satu halaman itu tercatat ke tangan siapa doa mereka dulu diantarkan, dan kenapa seorang laki-laki tua menyelipkan permintaan maaf di balik amplop wasiatnya.
Yang akan kamu temukan:
Cocok untuk pembaca romansa yang menyukai cerita hangat bernuansa pesantren, alumni pondok yang rindu suasana asrama, dan siapa saja yang ingin novel sekali duduk dengan akhir yang tuntas dan menenangkan.
Belum ada ulasan. Ulasan hanya bisa ditulis oleh pembeli yang sudah membayar.
Masuk untuk menulis ulasan setelah membeli.