Kantin Dua Lantai
Bu Rum membaca buku kas Nisa seperti membaca surat penting. Pelan, baris demi baris, dengan kacamata baca yang ia ambil dari laci meja.
"Es tehmu satu setengah ribu modalnya?" tanyanya.
"Iya, Bu. Sudah termasuk gelas dan gas."
"Punya saya seribu dua ratus. Saya beli gula per karung, gelas per dus besar." Bu Rum mengetuk angka di buku. "Kalian jual tiga ribu. Saya juga tiga ribu. Jadi pembeli memilih yang paling dekat. Wajar."
Fajar dan Nisa saling pandang. Mereka mengira akan dimarahi, bukan diajak menghitung.
"Roti sobek itu siapa yang buat?" tanya Bu Rum.
"Yoga, Bu. Anak Tata Boga."
"Enak," kata Bu Rum, dan Nisa hampir tidak percaya mendengarnya. "Kemarin saya beli satu lewat anak saya yang kelas sepuluh. Jangan bilang-bilang." Ia melepas kacamata. "Saya tidak bisa bikin roti. Oven saya kecil, cuma untuk risoles."
Ia diam beberapa saat, memandangi radio yang masih memutar campursari.
"Begini," katanya akhirnya. "Kalian butuh uang untuk pentas. Saya butuh es teh saya laku. Lutut saya tidak kuat naik tangga. Tapi tangan saya masih kuat bikin es teh seratus gelas sebelum jam tujuh."
Nisa sudah menebak arahnya, tapi ia membiarkan Bu Rum menyelesaikan.
"Es teh, saya yang bikin. Kalian yang jual di lantai dua. Saya kasih harga dua ribu per gelas ke kalian, kalian jual tiga ribu. Seribu untuk pentas. Kalian tidak perlu rebus teh, tidak perlu beli es batu, tidak perlu cuci termos. Roti tetap punya kalian sepenuhnya. Saya tidak jual roti."
Fajar menghitung cepat dengan jari. "Untung kita per gelas jadi seribu, bukan seribu lima ratus."
"Tapi kalian tidak keluar modal es teh sama sekali," jawab Nisa, yang sudah menekan tombol kalkulator. "Tidak ada risiko es teh basi. Tidak ada waktu rebus teh. Dan kalau ada yang tidak habis, Bu Rum bisa jual sisanya di kantin saat istirahat kedua." Ia mendongak. "Begitu, Bu?"
Bu Rum tersenyum untuk pertama kalinya. "Kamu cepat. Mirip anak saya yang perawat."
"Lalu alat tulis?" tanya Fajar.
"Saya tidak jual alat tulis. Silakan."
Mereka berjabat tangan di atas meja yang masih berbau tempe goreng. Nisa menuliskan kesepakatan itu di halaman baru buku kas, dengan tanggal dan tanda tangan Bu Rum, karena ibunya selalu bilang perjanjian yang tidak ditulis adalah perjanjian yang akan diperdebatkan.
Pengurus OSIS memprotes saat mendengar untung per gelas berkurang. Nisa berdiri di depan rapat dengan papan tulis kecil.
"Sebelumnya, kita untung seribu lima ratus per gelas, tapi harus bangun jam lima untuk rebus teh, beli es, dan cuci termos. Yoga dan saya terlambat masuk kelas pertama dua kali minggu ini." Ia menulis angka. "Sekarang untung seribu per gelas, tanpa kerja tambahan, tanpa risiko basi. Waktu yang kita hemat bisa dipakai Yoga untuk bikin roti dua kali lipat. Roti untungnya dua ribu per potong."
Ia menggarisbawahi kesimpulannya. "Kita mungkin untung lebih banyak, dan tidak ada yang dirugikan."
Fajar mengangkat tangan. "Saya setuju. Dan sejak tadi pagi, Bu Rum sudah tidak marah lagi."
Lima minggu berikutnya berjalan seperti mesin yang baru diminyaki. Setiap pagi pukul tujuh kurang lima belas, Yoga turun ke kantin dan mengangkat termos es teh buatan Bu Rum ke lantai dua. Ia kembali turun membawa termos kosong saat istirahat kedua. Roti sobeknya kini dua rasa, cokelat dan srikaya, dan anak-anak kelas tiga mulai memesan untuk dibawa pulang.
Nisa mencatat setiap transaksi saat itu juga di buku kas dengan kolom yang rapi: tanggal, barang, jumlah, harga, untung. Setiap Jumat sore, ia menyerahkan rekap mingguan kepada Bu Rum dan Pak Yanto. Tidak pernah ada selisih lagi.
Di minggu ketiga, sesuatu yang tidak mereka duga terjadi. Anak-anak yang membeli es teh di lantai dua mulai turun ke kantin saat istirahat kedua, membeli risoles dan nasi rames Bu Rum. "Es tehnya enak, Bu," kata mereka. "Ternyata ini dari Ibu, ya?" Penjualan kantin naik, bukan turun.
Bengkel tempat Fajar praktik kerja lapangan memberi sponsor tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, dengan syarat logo mereka dipasang di spanduk. Kelas Tata Busana menjual kostum bekas pentas tahun lalu. Dan sumbangan kecil dari guru-guru yang bilang "kembaliannya untuk pentas" kini dicatat rapi di kolom sendiri.
Pada hari Jumat minggu keenam, Nisa menghitung total terakhir di depan pengurus OSIS dan Pak Yanto. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena panik kali ini.
"Es teh: Rp1.140.000. Roti: Rp1.860.000. Alat tulis: Rp420.000. Sponsor: Rp750.000. Kostum: Rp310.000. Sumbangan: Rp185.000." Ia menekan tombol terakhir. "Total Rp4.665.000. Lebih Rp165.000 dari target."
Ruang OSIS meledak dalam sorakan. Yoga memeluk Fajar. Pak Yanto tersenyum lebar, mengangguk-angguk seperti ayah yang bangga.
"Lebihnya untuk apa?" tanya seseorang.
Nisa sudah memikirkan jawabannya sejak semalam. "Untuk Bu Rum. Lututnya. Kursi tinggi yang bisa diputar, supaya Bu Rum bisa duduk saat menggoreng."
Tidak ada yang membantah.
Pentas seni digelar tiga minggu kemudian di lapangan sekolah. Anak Tata Busana memperagakan kostum batik kontemporer. Anak Teknik Kendaraan Ringan menampilkan motor modifikasi berhias lampu. Band sekolah menyanyikan lagu-lagu daerah dengan aransemen rock yang membuat guru-guru tertawa.
Di pinggir lapangan, ada dua meja bersebelahan. Satu bertuliskan KANTIN BU RUM, satu bertuliskan KOPERASI LANTAI DUA. Di antara keduanya, Bu Rum duduk di kursi tinggi barunya yang bisa diputar, membuat es teh sambil sesekali berputar ke kanan untuk menyapa pembeli koperasi.
Nisa berdiri di belakang meja koperasi dengan buku kas terbuka, mencatat penjualan malam itu. Bu Rum mencondongkan tubuh dan berbisik.
"Nis, tahun depan pentas lagi?"
"Insyaallah, Bu."
"Bagus." Bu Rum tersenyum dan menunjuk spanduk di atas panggung. Di pojok kanannya, di bawah logo sponsor bengkel, ada tulisan kecil yang ditambahkan Fajar tanpa memberi tahu siapa pun.
DIDUKUNG OLEH ES TEH BU RUM, SEJAK 2003.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!